*Dirjen Badilag: Mari Bangun Peradilan Yang Tak Hanya Hebat Dalam Sistem, Tetapi Juga Hangat Dalam Pelayanan*
Jakarta, - PojokJurnal com. [Selasa,19 Mei 2026 Kehormatan seorang hakim dan aparat peradilan tidak hanya diukur dari kecanggihan sistemnya, tetapi dari kemampuannya mengayomi yang lemah. Menegaskan komitmen inklusivitas, Dirjen Badilag menyerukan transformasi pelayanan di garda terdepan hingga ruang sidang.
Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama melaksanakan kegiatan pembinaan pemberian layanan pengadilan bagi penyandang disabilitas yang berlangsung di Hotel Luwansa Convention Center, Manado pada Senin (18/5/2026).
Acara ini dihadiri oleh Dirjen Badilag, Drs. H. Muchlis, S.H., M.H., Ketua PTA Manado, Drs. M. Arsyad M, S.H., M.H., Wakil Ketua PTA Manado, Dr. Drs. Mubarok, M.H., Direktur Pembinaan Administrasi, Sutarno, S.IP., M.M., Panitera PTA Manado, Sekretaris PTA Manado, para Ketua Pengadilan Agama se-wilayah hukum PTA Manado, pejabat eselon III dan IV Ditjen Badilag, serta seluruh peserta dari unsur panitera muda dan petugas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
Dalam arahannya, Dirjen Badilag menekankan kepada petugas di garda terdepan yakni petugas keamanan dan petugas PTSP sebagai wajah pertama Mahkamah Agung di masyarakat untuk bersikap ramah dengan senyum menyenangkan, terutama untuk penyandang disabilitas.
"Garda depan kita harus memiliki empati di atas segalanya. Layani mereka dengan sikap ramah. Jika ada tunanetra, jemputlah dan tuntun dengan benar. Perjalanan mereka menuju pengadilan sudah sangat melelahkan, jangan biarkan kelelahan mereka bertambah karena sikap acuh kita," ungkap beliau.
Lebih lanjut, Dirjen Badilag berpesan kepada para Ketua dan Hakim sebagai pilar utama keadilan untuk menghadirkan rasa aman bagi setiap pencari keadilan, terutama saudara kita penyandang disabilitas.
"Seorang hakim tentu memiliki kearifan untuk memahami bahwa keterbatasan intelektual atau mental bukanlah penghalang untuk didengar suaranya, melainkan sebuah kondisi yang memerlukan kepekaan kita dalam berkomunikasi," ujar beliau.
"Ciptakan suasana yang kondusif agar mereka dapat memberikan keterangan tanpa merasa tertekan oleh formalitas persidangan. Ingatlah bahwa kehormatan hakim terletak pada kemampuannya mengayomi yang lemah dan melindungi martabat setiap insan," tambah beliau.
Mantan Hakim Tinggi PTA Palembang tersebut juga mengajak seluruh aparatur peradilan untuk mendukung visi besar pemerintah mewujudkan pembangunan yang inklusif.
"Dengan mengimplementasikan Perma 2/2025 secara sungguh-sungguh, kita telah memposisikan peradilan agama sebagai kontributor aktif dalam mengangkat martabat bangsa di dunia internasional. Kita menunjukkan sistem hukum Indonesia adalah sistem yang maju, modern, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM)," ucap beliau.
Melalui pembinaan ini, diharapkan seluruh hakim dan pegawai se-wilayah hukum PTA Manado dapat melakukan transformasi diri, membangun sistem peradilan yang tidak hanya hebat secara digital, tetapi juga hangat dalam memberikan pelayanan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Red Bahrudin
Penulis: Muhammad Arif Pahlevi
Sumber Humas MA Jakarta

Posting Komentar