Hei-Hei Hakim Berintegritas, 2 Lagu Karya Trio Hakim*
Jakarta – Pojok Jurnal com. [Kamis 12 Februari 2026. Di tengah dinamika dunia peradilan yang terus diuji, 3 insan hakim menghadirkan karya musik yang menggugah nurani dengan pesan jelas, Integritas. Mereka adalah Deka Rachman Budihanto (Ketua Pengadilan Negeri Paringin), Zeni Zenal Mutaqin (Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat), dan Ikbal Muhammad (Wakil Ketua Pengadilan Negeri Selong).
Tak disangka 2 lagu karyanya sempat terdengar oleh Ketua MA Prof. Sunarto hingga Prof. Sunarto menginginkan ketiga hakim tersebut untuk menampilkan karyanya di Panggung Pameran Kampung Hukum 2026. Chemistri yang telah panjang dibangun oleh ketiga hakim itu, berhasil mengguncang panggung pameran kampung hukum. Terngiang jelas dalam setiap lirik yang dibawakan Trio Hakim saat itu, seolah membawa Pesan: “Bangkitlah, ujian lembaga peradilan ini, hanyalah sebagai pijakan menuju wajah Peradilan yang Agung!”
Ketiganya membuat lagu berjudul “RINTIHAN TERLETIH” dan “MAHKAMAH AGUNG BANGKIT” sebagai bentuk suara hati sekaligus ajakan moral untuk menjaga martabat lembaga peradilan.
Baca Juga: Polemik Pembayaran Royalti Lagu di Ruang Publik: Studi Komparatif di Eropa
Ikbal Muhammad mengungkapkan, lahirnya 2 lagu tersebut tidak lepas dari kedekatan pertemanan dan pengalaman tugas bersama. Ia menyebut, dirinya bersama Deka Rachman dan Zeni Zenal Mutaqin pernah sama-sama bertugas di Pengadilan Negeri (PN) Tasikmalaya Kelas IA, sehingga komunikasi dan pertukaran gagasan tetap terjalin hingga kini.
“Lagu ini lahir dari rasa prihatin, marah, dan sedih melihat cobaan yang terus melanda Mahkamah Agung akibat ulah segelintir oknum. Hal itu membuat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan ikut tergerus,” ujar Ikbal. Menurutnya, karya tersebut dibuat sebagai bentuk ikhtiar untuk menyuarakan nurani para hakim yang tetap menjaga integritas. Mereka ingin menegaskan bahwa masih banyak hakim berintegritas yang bekerja dengan penuh tanggung jawab dan layak mendapat kepercayaan publik.
Tak hanya sebagai ekspresi kegelisahan, lagu itu juga memuat pesan moral bagi seluruh aparatur peradilan. Ikbal menyebut lagu tersebut merupakan ajakan agar para hakim dan pegawai pengadilan yang berintegritas tidak larut dalam kesedihan, tetapi bangkit dan bersuara lebih keras demi memulihkan nama baik peradilan. “Harapan membangun kepercayaan masyarakat masih ada. Hakim berintegritas itu masih ada dan mampu bersuara,” tambahnya.
Sementara itu, Zeni Zenal Mutaqin menjelaskan bahwa meski mereka berasal dari angkatan berbeda, Zeni angkatan 16, sedangkan Ikbal dan Deka angkatan 17, mereka memiliki titik pertemuan dalam perjalanan karier. Zeni pernah bertugas bersama Ikbal di PN Kuningan, dan kemudian bertugas bersama Deka di PN Tasikmalaya.
Ia mengungkapkan bahwa proses kreatif lagu bermula dari sebuah curahan hati Deka yang dikirim melalui grup WhatsApp. Lirik yang ditulis Deka kemudian mendapat respons positif, hingga akhirnya Ikbal berinisiatif menyusun chord dan aransemen lagu.
“Berawal dari adanya kejadian hakim yang ditangkap dan diproses hukum, Pak Deka mengirim curhatannya berupa lirik lagu. Atas saran rekan-rekan di grup, Pak Ikbal membuat chord lagunya,” kata Zeni.
Zeni berharap lagu tersebut mampu menjadi penguat moral bagi para hakim yang tetap istiqamah menjaga integritas di tengah ujian yang terus datang. Menurutnya, jumlah hakim berintegritas jauh lebih banyak, dan mereka perlu terus dikuatkan agar tidak kehilangan semangat.
Adapun Deka Rachman Budihanto menuturkan, lagu “Rintihan Terletih” tercipta secara spontan hanya dalam waktu semalam. Lagu tersebut lahir dari perasaan terpukul akibat peristiwa operasi tangkap tangan (OTT) hakim yang terjadi tahun lalu. Ia merasa peristiwa itu menyayat hati, bukan hanya secara pribadi, tetapi juga mewakili perasaan banyak hakim berintegritas yang selama ini bekerja dalam diam.
“Syair lagu dibuat dalam waktu semalam dalam perasaan penuh luka. Makanya di akhir reff disebutkan: hei hei hakim berintegritas bersuara keras… kutahu ini rintihan terletihmu… sebagai bentuk rasa hampir putus asa karena nama baik lembaga dicoreng oknum yang mengaku hakim,” ujar Deka.
Namun demikian, Deka menegaskan bahwa pesan utama lagu tersebut justru adalah optimisme. Ia ingin masyarakat tidak kehilangan kepercayaan, sebab hakim berintegritas akan selalu ada dan jumlahnya jauh lebih banyak dibanding oknum yang merusak.
“Setiap cobaan yang dialami Mahkamah Agung sesungguhnya untuk meninggikan derajat. Ini pondasi kuat agar bisa melompat lebih tinggi menuju visi Mahkamah Agung, terciptanya badan peradilan yang agung,” ungkapnya.
Menariknya, Deka memang dikenal memiliki rekam jejak panjang di dunia musik. Bahkan sebelum menjadi hakim, ia mengaku pernah menjadi anak band yang hampir masuk dapur rekaman. Sejumlah karya lain juga pernah ia lahirkan, mulai dari mars pengadilan hingga lagu bertema pelayanan publik.
Beberapa di antaranya adalah Mars PN Tasikmalaya, Mars PN Kepahiang “Menjaga Marwah”, Mars PN Paringin “The Soul of Integrity”, serta lagu bertema PTSP PN Tasikmalaya “Mesat Perobihan”. Ia juga menciptakan lagu-lagu bertema olahraga gowes seperti “Sky is the Limit” dan “Dibawah Mentari yang Sama”. Kini, lagu “Rintihan Terletih” dan “Mahkamah Agung Bangkit” dapat disaksikan melalui Youtube serta tersedia pula di Spotify. Untuk kedua lagu itu dapat disaksikan langsung oleh Dandafellas melalui link https://youtu.be/gvWMu0Qwy00?si=GtoypVQ6bdMdlaU4 dan https://youtu.be/XhbB-vbBeMY?feature=shared
Red Bahrudin
Sumber Humas MA Jakarta

Posting Komentar