-->
Telusuri
24 C
id
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Pedoman Media Siber
PojokJurnal.Com
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Kabar Polisi
  • Kabar TNI
  • Hukrim
  • Peristiwa
  • Pedidikan
  • Opini
  • Sosok
  • Teknologi
  • Industri
  • Info dan Tips
  • Wisata
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Politik
  • Ekonomi
Telusuri

PT. Via Multi Media

PT. Via Multi Media
www.pojokjurnal.com
Beranda Status Bencana Nasional: Tameng Impunitas atau Pintu Masuk Penegakan Hukum Lingkungan?* Status Bencana Nasional: Tameng Impunitas atau Pintu Masuk Penegakan Hukum Lingkungan?*

Status Bencana Nasional: Tameng Impunitas atau Pintu Masuk Penegakan Hukum Lingkungan?*

Bahrudin Thea
Bahrudin Thea
19 Des, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Jakarta- Pojok Jurnal com [ Jumat, 19 Des 2025  Penetapan status bencana nasional didasarkan pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Berdasarkan Pasal 7 ayat (2) huruf c UU tersebut, penetapan status bencana mempertimbangkan lima indikator utama yaitu: jumlah korban, kerugian harta benda, kerusakan prasarana dan sarana, cakupan luas wilayah terkena bencana, dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan.


Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan status dan tingkatan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan presiden. Status ini ditetapkan oleh Presiden untuk tingkat nasional dengan mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Dalam Keadaan Tertentu.


Penetapan status bencana nasional memiliki implikasi yuridis yang signifikan dalam hal kewenangan penanganan, koordinasi, dan alokasi sumber daya. Namun demikian, penetapan status tersebut tidak secara otomatis menghapus atau meniadakan pertanggungjawaban hukum pelaku kerusakan lingkungan.


Pertanggungjawaban pelaku kerusakan lingkungan saat ditetapkan status bencana nasional melibatkan pemrosesan hukum pidana dan perdata, pemulihan ekologis, serta penerapan prinsip strict liability dan corporate liability, di mana penetapan status ini membuka jalan investigasi secara komprehensif untuk mengungkap penyebab struktural dan memastikan korporasi/individu yang lalai atau bertanggung jawab secara hukum atas kerusakan lingkungan diproses, termasuk tuntutan ganti rugi dan kewajiban rehabilitasi ekosistem yang rusak, mengacu pada UU Penanggulangan Bencana dan UU Lingkungan Hidup.


Hukum lingkungan Indonesia menganut asas pertanggungjawaban mutlak (strict liability) sebagaimana diatur dalam Pasal 88 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH). Prinsip strict liability ini merupakan lex specialis terhadap ketentuan perbuatan melawan hukum dalam hukum perdata umum, dengan karakteristik khusus bahwa pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan atau kelalaian.


Pengecualian Pertanggungjawaban: Perbandingan UU 23/1997 dan UU 32/2009


Dalam UU Nomor 23 Tahun 1997 (tidak berlaku lagi), Pasal 35 ayat (2) secara eksplisit mengatur tiga alasan pembebasan tanggung jawab mutlak:


1.      Adanya bencana alam atau peperangan (Act of God);


2.      Adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia (force majeure); atau


3.      Adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan pencemaran/perusakan lingkungan.


Dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 (existing/berlaku), pengecualian tersebut dihapuskan. Pasal 88 UU PPLH tidak lagi mencantumkan alasan-alasan pembebas seperti yang terdapat dalam UU sebelumnya. Penghapusan ini berarti pelaku kerusakan lingkungan tidak dapat lagi mengelak dari tanggung jawab mengganti kerugian dan memulihkan lingkungan dengan dalih bencana alam atau force majeure.


Namun, perkembangan regulasi turunan memberikan nuansa berbeda. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pasal 501 ayat (5) menentukan bahwa tergugat dapat mengajukan pembelaan bahwa kerusakan/pencemaran lingkungan bukan disebabkan oleh perbuatannya, melainkan faktor eksternal termasuk bencana alam atau peperangan; adanya keadaan memaksa di luar kemampuan manusia; atau akibat perbuatan pihak lain yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan hidup dan/atau kerusakan lingkungan hidup, dalam hal ini sistem pembuktian terbalik. Artinya, tergugat harus membuktikan secara meyakinkan di pengadilan bahwa kerusakan benar-benar bukan akibat perbuatannya.


Hubungan Status Bencana Nasional dengan Pertanggungjawaban Lingkungan


Penetapan status bencana nasional tidak menghilangkan pertanggungjawaban hukum pelaku kerusakan lingkungan berdasarkan beberapa landasan yuridis:


1.      Pemisahan Fungsi Penanggulangan dan Penegakan Hukum


Status bencana nasional berfungsi untuk mobilisasi sumber daya dalam tahap tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi berdasarkan UU 24/2007. Fungsi ini terpisah dari fungsi penegakan hukum lingkungan yang diatur dalam UU 32/2009. Kedua rezim hukum ini berlaku secara paralel dan tidak saling meniadakan.


2.      Tanggung Jawab Negara versus Tanggung Jawab Pelaku


Berdasarkan Pasal 5 UU 24/2007, pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Tanggung jawab ini merupakan kewajiban konstitusional negara untuk melindungi warga negara, bukan pengganti tanggung jawab pelaku kerusakan lingkungan.


Dalam kasus kerusakan lingkungan yang ditetapkan sebagai bencana, terdapat dua lapis pertanggungjawaban:​


a.      Tanggung jawab pelaku usaha: Berdasarkan prinsip strict liability (Pasal 88 UU PPLH) untuk ganti rugi dan pemulihan lingkungan


b.      Tanggung jawab negara: Berdasarkan asas tanggung jawab negara (Pasal 2 huruf a UU PPLH dan UU 24/2007) untuk penanggulangan dampak bencana dan perlindungan masyarakat


3.      Prinsip Polluter Pays dan Keadilan Ekologis


Hukum lingkungan Indonesia mengadopsi prinsip pencemar membayar (polluter pays principle). Penetapan status bencana tidak dapat meniadakan prinsip ini karena akan bertentangan dengan asas keadilan dan keberlanjutan lingkungan yang menjadi landasan filosofis UU PPLH.


4.      Kasus Lumpur Lapindo


Kasus semburan Lumpur Lapindo Sidoarjo memberikan preseden penting. Meskipun ditetapkan sebagai bencana dan terdapat kontroversi apakah disebabkan kesalahan pengeboran atau gempa Yogyakarta, PT Lapindo Brantas tetap dimintai pertanggungjawaban karena kegiatannya tergolong berisiko tinggi dan menimbulkan ancaman serius bagi lingkungan. Pemerintah juga bertanggung jawab dalam penanggulangan, namun bukan berarti menggantikan tanggung jawab korporasi.


Kondisi Pembebasan Tanggung Jawab: Standar Pembuktian yang Ketat


Berdasarkan kerangka hukum berlaku saat ini, pembebasan tanggung jawab pelaku kerusakan lingkungan sangat terbatas dan mensyaratkan pembuktian ketat:


1.      Beban Pembuktian pada Tergugat: Sistem pembuktian terbalik (reversal of burden of proof) berlaku, di mana pelaku harus membuktikan bahwa kerusakan lingkungan bukan akibat perbuatannya.


2.      Kriteria Bencana Alam sebagai Pengecualian: Jika menggunakan PP 22/2021, tergugat harus membuktikan:


a)      Peristiwa benar-benar tidak dapat diantisipasi;


b)      Peristiwa di luar kendali pelaku;


c)      Tidak ada unsur kelalaian atau kesengajaan;


d)      Pelaku telah melakukan segala upaya pencegahan (due diligence); dan


e)      Terdapat itikad baik dalam pelaksanaan kewajiban lingkungan;


3.      Hubungan Kausalitas: Harus ada pemisahan tegas antara kerusakan akibat bencana alam murni dengan kerusakan akibat aktivitas pelaku yang diperparah atau dipicu oleh kondisi alam.


Implikasi terhadap Penegakan Hukum


Dalam konteks penetapan status bencana nasional akibat kerusakan lingkungan penegakan hukum tetap berlangsung. Investigasi penyebab kerusakan lingkungan tetap dilakukan oleh penyidik Polri dan PPNS Lingkungan Hidup. Gugatan perdata lingkungan dapat diajukan oleh Pemerintah/Pemda (Pasal 90 UU PPLH), organisasi lingkungan (Pasal 92), atau masyarakat (Pasal 91). Sanksi administratif dapat dijatuhkan sesuai Pasal 76-82 UU PPLH (sebagaimana diubah UU Cipta Kerja). Tuntutan pidana dapat diajukan berdasarkan Bab XV UU PPLH.


Dengan demikian, pelaku kerusakan lingkungan tetap dapat dimintai pertanggungjawaban secara hukum baik melalui jalur perdata (ganti rugi dan pemulihan), administratif (sanksi administratif), maupun pidana (jika memenuhi unsur tindak pidana), terlepas dari penetapan status bencana nasional. Status bencana seharusnya justru memperkuat kerangka penanganan komprehensif yang melibatkan baik aspek penanggulangan darurat maupun penegakan hukum lingkungan secara terintegrasi. (ldr/seg)


Referensi:


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang         Penanggulangan Bencana.


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang        Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang         Pengelolaan LIngkungan Hidup.


Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 Tentang        Penyelenggaraan Perli N Du Ngan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.


Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan    Penanggulangan Bencana Dalam Keadaan Tertentu


Willa Wahyuni, Ini Ketentuan Status Bencana Nasional, Otoritas Penetapan dan        Indikatornya, tanggal 03 Desember 2025,           https://www.hukumonline.com/berita/a/ini-ketentuan-status-bencana-       nasional--otoritas-penetapan-dan-indikatornya-lt692fa9e6a59b6/,   diakses pada 15 Desember 2025.


Aji Prasetyo, Ini Tanggung Jawab Negara Terhadap Korban Bencana Alam,        https://www.hukumonline.com/berita/a/ini-tanggung-jawab-negara-    terhadap-korban-bencana-alam-lt692fda8474f16/, diakses pada 15         Desember 2025.

Red

Sumber: Humas MA Jakarta

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

UCAPAN DARI YUKIE PAS BAND

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Advertiser

Advertiser
CAVIAR HERBAL

Advertiser

Advertiser
Marhaban Yaa Ramadhan "DPRD Provinsi Banten Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa"

Stay Conneted

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Featured Post

*Perkuat Budaya Anti Suap, MA Perluas Implementasi SMAP di Eselon I Hingga Pengadilan Banding*

Bahrudin Thea- Sabtu, April 11, 2026 0
*Perkuat Budaya Anti Suap, MA Perluas Implementasi SMAP di Eselon I Hingga Pengadilan Banding*
Jakarta - PojokJurnal com .   [ Jum'at,10 April 2026. Ketua Kamar Pengawasan Mahkamah Agung menegaskan bahwa integritas adalah fondasi utama bagi MA untu…

Berita Terpopuler

Dugaan Korupsi Infrastruktur Mengemuka, APB Laporkan DPUPR Cilegon ke Kejari : Kerugian Negara Capai Rp 3,4 Miliar

Dugaan Korupsi Infrastruktur Mengemuka, APB Laporkan DPUPR Cilegon ke Kejari : Kerugian Negara Capai Rp 3,4 Miliar

Kamis, April 09, 2026
Presiden Tekankan Kerja Nyata, Kementerian Ekraf Siap Jadi Motor Ketahanan Ekonomi Nasional*

Presiden Tekankan Kerja Nyata, Kementerian Ekraf Siap Jadi Motor Ketahanan Ekonomi Nasional*

Kamis, April 09, 2026
Penolakan Warga  Kampung  Pamengker   Adanya Aktifitas  Wisata  PT Vila Emas Dan Pendakian  Gunung Pulosari  Disoal

Penolakan Warga Kampung Pamengker Adanya Aktifitas Wisata PT Vila Emas Dan Pendakian Gunung Pulosari Disoal

Selasa, April 07, 2026
Jelang Idul Adha Saung Ternak Terate Sediakan Hewan Qurban dengan Harga Bersahabat

Jelang Idul Adha Saung Ternak Terate Sediakan Hewan Qurban dengan Harga Bersahabat

Senin, April 06, 2026
*Kaji Perubahan Pola Mutasi & Promosi Kepaniteraan, BSDK MA Gelar FGD*

*Kaji Perubahan Pola Mutasi & Promosi Kepaniteraan, BSDK MA Gelar FGD*

Kamis, April 09, 2026
 *Sejauh Mana Etika Mempengaruhi Putusan Hakim?*

*Sejauh Mana Etika Mempengaruhi Putusan Hakim?*

Kamis, April 09, 2026
Hadiri Halalbihalal MAPPI, Wamen Ossy Ingatkan Pentingnya Nilai Integritas dalam Profesi Penilai*

Hadiri Halalbihalal MAPPI, Wamen Ossy Ingatkan Pentingnya Nilai Integritas dalam Profesi Penilai*

Kamis, April 09, 2026
DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers

DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers

Selasa, April 07, 2026
Dugaan Korupsi Proyek Jalan di Lebak Dilaporkan ke Kejari, Potensi Kerugian Negara Miliaran Rupiah

Dugaan Korupsi Proyek Jalan di Lebak Dilaporkan ke Kejari, Potensi Kerugian Negara Miliaran Rupiah

Kamis, April 09, 2026
Danrem 064/MY Tinjau Rehab Panti Asuhan di Serang, Kehadiran TNI AD Terasa di Tengah Masyarakat

Danrem 064/MY Tinjau Rehab Panti Asuhan di Serang, Kehadiran TNI AD Terasa di Tengah Masyarakat

Jumat, April 10, 2026

Berita Terpopuler

Dugaan Korupsi Infrastruktur Mengemuka, APB Laporkan DPUPR Cilegon ke Kejari : Kerugian Negara Capai Rp 3,4 Miliar

Dugaan Korupsi Infrastruktur Mengemuka, APB Laporkan DPUPR Cilegon ke Kejari : Kerugian Negara Capai Rp 3,4 Miliar

Kamis, April 09, 2026
Presiden Tekankan Kerja Nyata, Kementerian Ekraf Siap Jadi Motor Ketahanan Ekonomi Nasional*

Presiden Tekankan Kerja Nyata, Kementerian Ekraf Siap Jadi Motor Ketahanan Ekonomi Nasional*

Kamis, April 09, 2026
Penolakan Warga  Kampung  Pamengker   Adanya Aktifitas  Wisata  PT Vila Emas Dan Pendakian  Gunung Pulosari  Disoal

Penolakan Warga Kampung Pamengker Adanya Aktifitas Wisata PT Vila Emas Dan Pendakian Gunung Pulosari Disoal

Selasa, April 07, 2026
Jelang Idul Adha Saung Ternak Terate Sediakan Hewan Qurban dengan Harga Bersahabat

Jelang Idul Adha Saung Ternak Terate Sediakan Hewan Qurban dengan Harga Bersahabat

Senin, April 06, 2026
*Kaji Perubahan Pola Mutasi & Promosi Kepaniteraan, BSDK MA Gelar FGD*

*Kaji Perubahan Pola Mutasi & Promosi Kepaniteraan, BSDK MA Gelar FGD*

Kamis, April 09, 2026
 *Sejauh Mana Etika Mempengaruhi Putusan Hakim?*

*Sejauh Mana Etika Mempengaruhi Putusan Hakim?*

Kamis, April 09, 2026
Hadiri Halalbihalal MAPPI, Wamen Ossy Ingatkan Pentingnya Nilai Integritas dalam Profesi Penilai*

Hadiri Halalbihalal MAPPI, Wamen Ossy Ingatkan Pentingnya Nilai Integritas dalam Profesi Penilai*

Kamis, April 09, 2026
DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers

DPP PJS Kumpulkan Pimpinan DPD Se-Indonesia, Bahas Persiapan Final Konstituen Dewan Pers

Selasa, April 07, 2026
Dugaan Korupsi Proyek Jalan di Lebak Dilaporkan ke Kejari, Potensi Kerugian Negara Miliaran Rupiah

Dugaan Korupsi Proyek Jalan di Lebak Dilaporkan ke Kejari, Potensi Kerugian Negara Miliaran Rupiah

Kamis, April 09, 2026
Danrem 064/MY Tinjau Rehab Panti Asuhan di Serang, Kehadiran TNI AD Terasa di Tengah Masyarakat

Danrem 064/MY Tinjau Rehab Panti Asuhan di Serang, Kehadiran TNI AD Terasa di Tengah Masyarakat

Jumat, April 10, 2026
PojokJurnal.Com

About Us

PojokJurnal.Com merupakan portal berita terkini di Indonesia, menyajikan beragam informasi dari berbagai sektor kehidupan yang disajikan secara sederhana dan mudah dipahami untuk membukan wawasan secara luas.

Contact us: pojokjurnal59@gmail.com

Follow Us

Copyright © 2023 | PojokJurnal.Com
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan Ketentuan