-->
Telusuri
24 C
id
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Pedoman Media Siber
PojokJurnal.Com
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Kabar Polisi
  • Kabar TNI
  • Hukrim
  • Peristiwa
  • Pedidikan
  • Opini
  • Sosok
  • Teknologi
  • Industri
  • Info dan Tips
  • Wisata
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Politik
  • Ekonomi
Telusuri

PT. Via Multi Media

PT. Via Multi Media
www.pojokjurnal.com
Beranda Banten Headline Opini Kejati Banten Harus Tegas! Bongkar Dugaan Korupsi Miliaran di Dishub Banten!
Banten Headline Opini

Kejati Banten Harus Tegas! Bongkar Dugaan Korupsi Miliaran di Dishub Banten!

Admin
Admin
11 Mar, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


Banten, PojokJurnal.Com - Dinas Perhubungan (Dishub) Banten diduga telah menghambur-hamburkan uang rakyat melalui proyek Sarana Angkutan Umum Massal (SAUM) yang sejak 2018 hingga 2024 tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Proyek bernilai Rp 16,5 miliar lebih ini diduga hanya menjadi ajang pemborosan anggaran, bahkan berpotensi kuat sebagai lahan bancakan para koruptor. Namun, hingga saat ini, tidak ada langkah serius dari aparat penegak hukum, khususnya Kejati Banten, untuk mengusut tuntas skandal ini.

Kami menegaskan, Kejati Banten tidak boleh tinggal diam dan harus segera bertindak tegas! Jika tidak, maka Kejati Banten akan dicap sebagai institusi yang hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Rakyat Banten tidak butuh institusi penegak hukum yang hanya sekadar formalitas, tetapi butuh keberanian untuk menindak pelaku korupsi yang telah menggerogoti uang negara!

Bukti-bukti yang disampaikan oleh DPW Solidaritas Merah Putih (SOLMET) Banten dalam laporan mereka ke Kejati Banten sudah sangat jelas dan terang benderang. Bus yang tidak beroperasi, halte yang dibangun di titik yang sama setiap tahun, hingga miliaran rupiah anggaran yang digelontorkan untuk jasa konsultasi tanpa hasil yang jelas—semuanya adalah bentuk dugaan penyalahgunaan anggaran yang tidak bisa ditoleransi!

Selain itu, indikasi keterlibatan oknum anggota DPRD Banten dalam proyek di Dishub Banten ini juga tidak bisa diabaikan. Program yang tertuang dalam Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) mereka diduga kuat menjadi pintu masuk permainan standar ganda dalam pelaksanaan proyek ini, terutama dalam hal penunjukan pihak ketiga. Dengan nilai miliaran rupiah, ada dugaan kuat bahwa proses ini sarat kepentingan, bukan demi kesejahteraan masyarakat, melainkan untuk keuntungan pribadi maupun kelompok tertentu. Jika benar ada keterlibatan oknum DPRD dalam skandal ini, maka Kejati Banten juga harus segera bertindak tegas! Tidak boleh ada impunitas bagi mereka yang menyalahgunakan jabatannya untuk merampok uang rakyat!

Gubernur Banten juga tidak boleh pura-pura tidak tahu dan lepas tangan! Sudah terlalu lama masyarakat Banten dirugikan oleh kebijakan yang tidak becus dan sarat dengan dugaan korupsi. Tri Nurtopo sebagai Kepala Dinas Perhubungan Banten jelas-jelas telah gagal total dalam menjalankan tugasnya! Jika Gubernur Banten masih membiarkan orang seperti ini bercokol di jabatannya, maka patut dipertanyakan apakah ada kepentingan tersembunyi di balik pembiaran ini!

Gubernur Banten harus segera mencopot Tri Nurtopo dari jabatannya sebagai Kadishub Banten! Tidak ada alasan untuk mempertahankan seorang pejabat yang diduga terlibat dalam pemborosan uang rakyat dan mempermainkan anggaran negara. Jika Gubernur Banten tidak segera bertindak, maka itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat yang telah memilihnya! Jangan sampai masyarakat menilai bahwa Gubernur ikut menikmati hasil dugaan korupsi ini dengan cara melindungi pejabat yang bermasalah!

Kami tidak akan tinggal diam! Jika dalam waktu dekat Tri Nurtopo tidak dicopot, maka kami akan menuntut pertanggungjawaban Gubernur Banten! Jangan sampai gelombang aksi besar terjadi di Banten hanya karena pemimpin daerah lebih memilih melindungi kroni-kroninya daripada membela kepentingan rakyat! Gubernur harus menunjukkan keberpihakan kepada rakyat dengan membersihkan pejabat-pejabat busuk di lingkarannya!

Jika Kejati Banten serius dalam penegakan hukum, maka:

1. Pejabat-pejabat Dishub Banten yang bertanggung jawab dalam proyek SAUM harus segera diperiksa!

2. Aliran dana proyek ini harus ditelusuri, jangan sampai ada uang rakyat yang berakhir di kantong pejabat dan kroni-kroninya!

3. Setiap pihak yang terlibat harus diseret ke meja hijau, tanpa pandang bulu!

KEJATI BANTEN HARUS MEMBUKTIKAN INTEGRITASNYA!

Peringatan dari Jaksa Agung ST Burhanuddin sangat jelas: Tidak ada toleransi bagi aparat Kejaksaan yang bermain proyek atau melakukan intervensi yang tidak seharusnya! Jika Kejati Banten tidak segera menindaklanjuti laporan ini, maka patut dipertanyakan, apakah ada pihak di dalam institusi hukum yang bermain mata dengan Dishub Banten?

Kepercayaan publik terhadap Kejaksaan saat ini berada di puncaknya dengan tingkat kepercayaan 77%, namun jika kasus ini dibiarkan menguap tanpa kejelasan, maka reputasi Kejati Banten akan hancur! Jangan sampai Kejati hanya sibuk dengan kasus-kasus kecil, tetapi membiarkan dugaan korupsi miliaran rupiah di depan mata tanpa tindakan!

Kami, sebagai bagian dari masyarakat sipil, tidak akan tinggal diam. Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah nyata dari Kejati Banten, maka kami akan terus mengawal kasus ini dengan aksi yang lebih besar! Kejati Banten harus membuktikan bahwa mereka bekerja untuk rakyat, bukan melindungi kepentingan segelintir elit koruptor!

Jangan Biarkan Dishub Banten Leluasa Menghabiskan Uang Rakyat! Usut, Tangkap, Adili Para Koruptor!

Oleh : Kamaludin, SE (Aktivis, Pengamat Politik dan Kebijakan Publik)

Via Banten
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

UCAPAN DARI YUKIE PAS BAND

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Advertiser

Advertiser
CAVIAR HERBAL

Stay Conneted

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Featured Post

JALAN PROVINSI TONJONG RUSAK PARAH, JEMBATAN JEBOL, ALIANSI PEDULI BANTEN TEGASKAN UPTD JALAN JEMBATAN SERANG-CILEGON WAJIB DIPERIKSA

Pojok Jurnal- Sabtu, Mei 23, 2026 0
JALAN PROVINSI TONJONG RUSAK PARAH, JEMBATAN JEBOL, ALIANSI PEDULI BANTEN TEGASKAN UPTD JALAN JEMBATAN SERANG-CILEGON WAJIB DIPERIKSA
SERANG – PojokJurnal.com | 23 Mei 2026 Ruas Jalan Tonjong yang merupakan jalur jalan provinsi di bawah tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruan…

Berita Terpopuler

Menolak Koruptor di Bursa Ketua KONI Kota Blitar, MAKI : Olahraga jangan dipimpin Figur Bermasalah.

Menolak Koruptor di Bursa Ketua KONI Kota Blitar, MAKI : Olahraga jangan dipimpin Figur Bermasalah.

Selasa, Mei 19, 2026
 *Presiden Tegaskan Penguatan Yudikatif dan Langkah Tegas Negara dalam Menjaga Kekayaan Bangsa*

*Presiden Tegaskan Penguatan Yudikatif dan Langkah Tegas Negara dalam Menjaga Kekayaan Bangsa*

Senin, Mei 18, 2026
Cemerlang! Isma Wardani Setiawanti Sabet Dua Piala Sekaligus, Harumkan Nama SMP Negeri 1 Way Jepara

Cemerlang! Isma Wardani Setiawanti Sabet Dua Piala Sekaligus, Harumkan Nama SMP Negeri 1 Way Jepara

Minggu, Mei 17, 2026
Sinergi TNI dan Komponen Masyarakat Bersihkan Kawasan Koperasi Nelayan Merah Putih

Sinergi TNI dan Komponen Masyarakat Bersihkan Kawasan Koperasi Nelayan Merah Putih

Senin, Mei 18, 2026
Diduga Terjadi Pungli di MTs Negeri 1 Lebak, Berkedok Kegiatan Tapis Quran: Pungutan Rp400.000 Per Siswa dari Ratusan Peserta, Kepala Sekolah Tak Merespons

Diduga Terjadi Pungli di MTs Negeri 1 Lebak, Berkedok Kegiatan Tapis Quran: Pungutan Rp400.000 Per Siswa dari Ratusan Peserta, Kepala Sekolah Tak Merespons

Senin, Mei 18, 2026
*Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono*  *Oleh: Yakub F. Ismail*  Awal tahun 2026 menjadi fase yang tidak mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Bukan karena minimnya perencanaan atau lemahnya kapasitas sang nakhoda, melainkan tantangan kompleksitas persoalan yang makin berlapis.  Tidak seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Jakarta merupakan ruang hidup yang selalu menjadi fokus perhatian sekaligus parameter bagi keberhasilan kebijakan nasional. Ini karena kota penuh sejarah ini kerap diidentikkan sebagai wajah Indonesia.  Ekspektasi yang begitu besar terhadap Jakarta membuat siapapun yang memimpin daerah ini tidak pernah bisa menghidar dari sorotan publik.   Di balik plus dan minusnya, seorang Gubernur DKI Jakarta selalu berada dalam posisi yang serba tidak nyaman. Adakalanya ia dipuji ketika berhasil membuat gebrakan besar menjawab persoalan yang ada.  Namun, tidak jarang, ia mendapatkan cacian dan hinaan hanya karena kesalahan kecil yang dibuatnya.   Memang menjadi kepala daerah Jakarta bukan pekerjaan sederhana. Jabatan tersebut bahkan penuh risiko. Hanya mereka yang berani dan siap, mampu melewati ujian tersebut.  Hal itulah yang saat ini dirasakan Gubernur Pramono Anung ketika diamanahkan memimpin daerah dengan jumlah penghuni tetap sekitar 11 juta sekian penduduk tersebut.  Mengawali tahun 2026, yang juga menjadi momentum menuju satu tahun masa menjabat pasca dilantik pada 20 Februari 2025, Pramono Anung sudah dihadapkan dengan ujian yang cukup berat.  Salah satu persoalan yang dihadapi saat ini yakni cuaca ekstrem. Harus diakui bahwa cuaca ekstrem kian sulit diprediksi secara tepat, meski inovasi teknologi pendeteksi cuaca terus diperbarui setiap saat.  Terlebih, Kota Jakarta yang selama ini selalu familiar dengan persoalan klasiknya mulai dari genangan, banjir, rob (kenaikan permukaan air laut), penurunan tanah, hingga ketergantungan pada wilayah hulu, yang tidak jarang membuat seorang gubernur kewalahan mencari jalan keluarnya.  Di tengah situasi tersebut, perhatian dan harapan tinggi diletakkan di pundak sang pemimpin daerah.   Dengan demikian, mampukah Pramono Anung membaca situasi, bersikap antisipatif, dan punya resep solutif dalam mengatasi tantangan tersebut? Di sinilah letak ujian yang bakal menentukan seberapa tangguh dan dapat diandalkan dari seorang Pramono untuk memimpin ibu kota.  *Menuju 1 Tahun Kepemimpinan*  Menyongsong satu tahun pengabdian, Pramono Anung masih tampil dengan gaya yang khasnya yang penuh ketenangan dan antisipatif.   Tidak banyak yang berbeda dari karakter kepemimpinan seorang Pramono sejak awal menjabat, hingga dihantam berbagai ujian selama menakhodai ibu kota.  Apa yang konsisten dari seorang Pramono sejauh ini adalah komitmennya dalam menjaga kesinambungan kebijakan yang telah direncanakan matang sebelumnya.  Pramono, seperti telah jamak diketahui, tidak ingin terburu-buru mengubah sikap dan mindset dalam menghadapi persoalan yang datang secara tiba-tiba ataupun yang sifatnya kronis.  Ia selalu menunjukkan cara kerjanya yang rapi, tenang, terkoordinasi, telaten, dan penuh kehati-hatian kala mengurai suatu problematika yang dihadapi. Setidaknya, itulah yang dibuktikan di tahun pertama kepemimpinannya ini.  Karakter kepemimpinan Pramono juga tercermin dari sejumlah kebijakan yang lahir dari tangan dinginnya.   Sebagai contoh, di masa kepemimpinannya, Pramono mendorong penguatan integrasi antarmoda sebagai fondasi mobilitas perkotaan.   Moda transportasi publik seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan transportasi pengumpan diarahkan untuk bekerja dalam satu sistem yang saling terkoneksi dan terintegrasi.   Tidak berhenti di sana, sejumlah proyek besar yang sempat mangkrak dan merusak estetika kota seperti proyek monorel yang sempat terhenti selama 22 tahun kini mulai dibereskan.  Sebelum Pramono, tiang-tiang monorel mangkrak yang terpancang di sepanjang jalan raya HR Rasuna Said itu dibiarkan berdiri membisu tanpa sentuhan apapun.  Bukan karena ia berdiri kokoh sebagai simbol peradaban kota, melainkan hamparan besi tua tengah kota yang mengganggu itu sengaja dibiarkan begitu, karena tidak ada yang tertarik untuk menatanya kembali.  Baru di era Pramono, proyek gagal itu mendapat perhatian dan mulai ditata ulang. Tujuannya sederhana, sebelum memulai langkah besar, perlu membereskan hambatan kecil yang menghalang di depan mata.  Sementara, dalam konteks penanganan banjir, Pramono juga menunjukkan keseriusannya melalui penguatan strategi kombinasi antara solusi struktural dan nonstruktural.   Kebijakan normalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pengerukan waduk dan sungai, sampai dengan penguatan sistem peringatan dini menjadi agenda krusial yang selalu ditekankan di berbagai kesempatan.  Tidak berhenti di situ, Pramono juga mendorong kerja sama lintas wilayah sebagai prasyarat utama menyelesaikan masalah banjir di Jakarta.  Menurutnya, masalah banjir di Jakarta sangat kompleks, sehingga tidak bisa ditangani melalui pendekatan tunggal dan pasrial. Masalah banjir Jakarta sangat berkaitan erat dengan kawasan hulu dan daerah penyangga. Sinergi dan kolaborasi antarwilayah, karenanya, merupakan kunci utama keberhasilan.  Pada aspek pelayanan publik dan birokrasi, Pramono tiada henti mendorong digitalisasi layanan, penyederhanaan perizinan, hingga penegakan disiplin aparatur.   Sejumlah inovasi administratif lahir dari kerja keras dan dedikasinya yang tak kenal lelah. Ia terus mengarahkan jajarannya untuk memangkas prosedur birokrasi yang berbelit dan meningkatkan transparansi, terutama dari sisi layanan kependudukan dan perizinan usaha.  Seluruh capaian dan arah kebijakan yang diambil tersebut tentu menjadi modal penting dalam mengawali pemerintahannya di tahun 2026 ini.   Dengan keuatan fondasi kebijakan yang telah dipersiapkan satu tahun pertama, Pramono dngan satu keyakinan penuh siap menghadapi tantangan di awal 2026 dengan kesiapsiagaan yang lebih terukur.  *Menyongsong 50 Dekade Jakarta*  Membahas Jakarta tidak bisa melepaskan dari perjalanan panjang sejarah yang penuh liku. Dari masa Batavia, sebagai kota kolonial yang dibangun VOC pada abad ke-17, Jakarta lahir sebagai kepentingan dagang dan kekuasaan.   Struktur dan tata kota dirancang dengan tujuan melayani kolonialisme, meninggalkan warisan ketimpangan dan persoalan tata ruang yang jejaknya masih bisa disaksikan dan dirasakan sampai sekarang.  Lalu, pada masa setelah kemerdekaan, transformasi mulai dilakukan, dimulai dari mengganti nama Batavia menjadi Jakarta sebagai wujud mencitakan identitas baru yang selaras-senafas dengan peradaban bangsa.  Pelan tapi pasti, kota ini mulai tumbuh menjadi pusat pemerintahan negara, ekonomi, hingga menjelma sebagai simpul kebudayaan dan identitas nasional.   Dalam perjalanannya menuju 50 dekade (499 tahun), Jakarta diyakini bakal mengalami transformasi besar (great transformation), sebagai kota administratif menjadi pusat ekonomi global.  Menyogsong era baru tersebut, sejumlah persiapan harus dilakukan dari sekarang, mulai dari pembangunan infrastruktur modern, ekspansi kawasan bisnis, hingga pemanfaatan demografi.  Karena itu, menuju masa 500 tahun yang juga bermakna separuh milenium, adalah sebuah perjalanan yang penuh makna.  Ia tidak sekadar rayaan tahun dengan menekankan pada sisi refleksivitas semata, melainkan pada persiapan energi menjemput transformasi besar yang dipersiapkan secara matang di bawah kepemimpinan seorang gubernur.   Dalam konteks inilah sorotan terhadap kepemimpinan Pramono Anung memperoleh makna strategis.   Pramono kini memimpin Jakarta di masa transisi sejarah yang penuh penentuan. Jakarta yang tengah mempersiapkan diri menuju kota global yang sarat kompetisi, inovasi dan kreativitas.  Pada poin ini, tanggung jawab seorang nakhoda sungguh dipertaruhkan. Jika ia berhasil, akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil melangkahi masa peralihan dengan penuh harapan. Sebaliknya, jika ia gagal, maka akan diingat sebagai makhoda buruk yang membunuh mimpi besar berjuta rakyat.  Semoga, tantangan serius ini mampu dijawab dengan karya dan prestasi meyakinkan di tangan seorang Gubernur Pramono Anung yang kini sedang berada di trayek yang tepat.  *Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR*

*Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono* *Oleh: Yakub F. Ismail* Awal tahun 2026 menjadi fase yang tidak mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Bukan karena minimnya perencanaan atau lemahnya kapasitas sang nakhoda, melainkan tantangan kompleksitas persoalan yang makin berlapis. Tidak seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Jakarta merupakan ruang hidup yang selalu menjadi fokus perhatian sekaligus parameter bagi keberhasilan kebijakan nasional. Ini karena kota penuh sejarah ini kerap diidentikkan sebagai wajah Indonesia. Ekspektasi yang begitu besar terhadap Jakarta membuat siapapun yang memimpin daerah ini tidak pernah bisa menghidar dari sorotan publik. Di balik plus dan minusnya, seorang Gubernur DKI Jakarta selalu berada dalam posisi yang serba tidak nyaman. Adakalanya ia dipuji ketika berhasil membuat gebrakan besar menjawab persoalan yang ada. Namun, tidak jarang, ia mendapatkan cacian dan hinaan hanya karena kesalahan kecil yang dibuatnya. Memang menjadi kepala daerah Jakarta bukan pekerjaan sederhana. Jabatan tersebut bahkan penuh risiko. Hanya mereka yang berani dan siap, mampu melewati ujian tersebut. Hal itulah yang saat ini dirasakan Gubernur Pramono Anung ketika diamanahkan memimpin daerah dengan jumlah penghuni tetap sekitar 11 juta sekian penduduk tersebut. Mengawali tahun 2026, yang juga menjadi momentum menuju satu tahun masa menjabat pasca dilantik pada 20 Februari 2025, Pramono Anung sudah dihadapkan dengan ujian yang cukup berat. Salah satu persoalan yang dihadapi saat ini yakni cuaca ekstrem. Harus diakui bahwa cuaca ekstrem kian sulit diprediksi secara tepat, meski inovasi teknologi pendeteksi cuaca terus diperbarui setiap saat. Terlebih, Kota Jakarta yang selama ini selalu familiar dengan persoalan klasiknya mulai dari genangan, banjir, rob (kenaikan permukaan air laut), penurunan tanah, hingga ketergantungan pada wilayah hulu, yang tidak jarang membuat seorang gubernur kewalahan mencari jalan keluarnya. Di tengah situasi tersebut, perhatian dan harapan tinggi diletakkan di pundak sang pemimpin daerah. Dengan demikian, mampukah Pramono Anung membaca situasi, bersikap antisipatif, dan punya resep solutif dalam mengatasi tantangan tersebut? Di sinilah letak ujian yang bakal menentukan seberapa tangguh dan dapat diandalkan dari seorang Pramono untuk memimpin ibu kota. *Menuju 1 Tahun Kepemimpinan* Menyongsong satu tahun pengabdian, Pramono Anung masih tampil dengan gaya yang khasnya yang penuh ketenangan dan antisipatif. Tidak banyak yang berbeda dari karakter kepemimpinan seorang Pramono sejak awal menjabat, hingga dihantam berbagai ujian selama menakhodai ibu kota. Apa yang konsisten dari seorang Pramono sejauh ini adalah komitmennya dalam menjaga kesinambungan kebijakan yang telah direncanakan matang sebelumnya. Pramono, seperti telah jamak diketahui, tidak ingin terburu-buru mengubah sikap dan mindset dalam menghadapi persoalan yang datang secara tiba-tiba ataupun yang sifatnya kronis. Ia selalu menunjukkan cara kerjanya yang rapi, tenang, terkoordinasi, telaten, dan penuh kehati-hatian kala mengurai suatu problematika yang dihadapi. Setidaknya, itulah yang dibuktikan di tahun pertama kepemimpinannya ini. Karakter kepemimpinan Pramono juga tercermin dari sejumlah kebijakan yang lahir dari tangan dinginnya. Sebagai contoh, di masa kepemimpinannya, Pramono mendorong penguatan integrasi antarmoda sebagai fondasi mobilitas perkotaan. Moda transportasi publik seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan transportasi pengumpan diarahkan untuk bekerja dalam satu sistem yang saling terkoneksi dan terintegrasi. Tidak berhenti di sana, sejumlah proyek besar yang sempat mangkrak dan merusak estetika kota seperti proyek monorel yang sempat terhenti selama 22 tahun kini mulai dibereskan. Sebelum Pramono, tiang-tiang monorel mangkrak yang terpancang di sepanjang jalan raya HR Rasuna Said itu dibiarkan berdiri membisu tanpa sentuhan apapun. Bukan karena ia berdiri kokoh sebagai simbol peradaban kota, melainkan hamparan besi tua tengah kota yang mengganggu itu sengaja dibiarkan begitu, karena tidak ada yang tertarik untuk menatanya kembali. Baru di era Pramono, proyek gagal itu mendapat perhatian dan mulai ditata ulang. Tujuannya sederhana, sebelum memulai langkah besar, perlu membereskan hambatan kecil yang menghalang di depan mata. Sementara, dalam konteks penanganan banjir, Pramono juga menunjukkan keseriusannya melalui penguatan strategi kombinasi antara solusi struktural dan nonstruktural. Kebijakan normalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pengerukan waduk dan sungai, sampai dengan penguatan sistem peringatan dini menjadi agenda krusial yang selalu ditekankan di berbagai kesempatan. Tidak berhenti di situ, Pramono juga mendorong kerja sama lintas wilayah sebagai prasyarat utama menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Menurutnya, masalah banjir di Jakarta sangat kompleks, sehingga tidak bisa ditangani melalui pendekatan tunggal dan pasrial. Masalah banjir Jakarta sangat berkaitan erat dengan kawasan hulu dan daerah penyangga. Sinergi dan kolaborasi antarwilayah, karenanya, merupakan kunci utama keberhasilan. Pada aspek pelayanan publik dan birokrasi, Pramono tiada henti mendorong digitalisasi layanan, penyederhanaan perizinan, hingga penegakan disiplin aparatur. Sejumlah inovasi administratif lahir dari kerja keras dan dedikasinya yang tak kenal lelah. Ia terus mengarahkan jajarannya untuk memangkas prosedur birokrasi yang berbelit dan meningkatkan transparansi, terutama dari sisi layanan kependudukan dan perizinan usaha. Seluruh capaian dan arah kebijakan yang diambil tersebut tentu menjadi modal penting dalam mengawali pemerintahannya di tahun 2026 ini. Dengan keuatan fondasi kebijakan yang telah dipersiapkan satu tahun pertama, Pramono dngan satu keyakinan penuh siap menghadapi tantangan di awal 2026 dengan kesiapsiagaan yang lebih terukur. *Menyongsong 50 Dekade Jakarta* Membahas Jakarta tidak bisa melepaskan dari perjalanan panjang sejarah yang penuh liku. Dari masa Batavia, sebagai kota kolonial yang dibangun VOC pada abad ke-17, Jakarta lahir sebagai kepentingan dagang dan kekuasaan. Struktur dan tata kota dirancang dengan tujuan melayani kolonialisme, meninggalkan warisan ketimpangan dan persoalan tata ruang yang jejaknya masih bisa disaksikan dan dirasakan sampai sekarang. Lalu, pada masa setelah kemerdekaan, transformasi mulai dilakukan, dimulai dari mengganti nama Batavia menjadi Jakarta sebagai wujud mencitakan identitas baru yang selaras-senafas dengan peradaban bangsa. Pelan tapi pasti, kota ini mulai tumbuh menjadi pusat pemerintahan negara, ekonomi, hingga menjelma sebagai simpul kebudayaan dan identitas nasional. Dalam perjalanannya menuju 50 dekade (499 tahun), Jakarta diyakini bakal mengalami transformasi besar (great transformation), sebagai kota administratif menjadi pusat ekonomi global. Menyogsong era baru tersebut, sejumlah persiapan harus dilakukan dari sekarang, mulai dari pembangunan infrastruktur modern, ekspansi kawasan bisnis, hingga pemanfaatan demografi. Karena itu, menuju masa 500 tahun yang juga bermakna separuh milenium, adalah sebuah perjalanan yang penuh makna. Ia tidak sekadar rayaan tahun dengan menekankan pada sisi refleksivitas semata, melainkan pada persiapan energi menjemput transformasi besar yang dipersiapkan secara matang di bawah kepemimpinan seorang gubernur. Dalam konteks inilah sorotan terhadap kepemimpinan Pramono Anung memperoleh makna strategis. Pramono kini memimpin Jakarta di masa transisi sejarah yang penuh penentuan. Jakarta yang tengah mempersiapkan diri menuju kota global yang sarat kompetisi, inovasi dan kreativitas. Pada poin ini, tanggung jawab seorang nakhoda sungguh dipertaruhkan. Jika ia berhasil, akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil melangkahi masa peralihan dengan penuh harapan. Sebaliknya, jika ia gagal, maka akan diingat sebagai makhoda buruk yang membunuh mimpi besar berjuta rakyat. Semoga, tantangan serius ini mampu dijawab dengan karya dan prestasi meyakinkan di tangan seorang Gubernur Pramono Anung yang kini sedang berada di trayek yang tepat. *Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR*

Kamis, Januari 15, 2026
Dugaan Ancam Bawa Parang, Ketua HMTM Unpam Serang Dilaporkan ke Polda Banten

Dugaan Ancam Bawa Parang, Ketua HMTM Unpam Serang Dilaporkan ke Polda Banten

Kamis, Mei 14, 2026
Gren Opening Program MBG Di SPPG Yayasan AL-Miftah Desa Umnul Ckeusik Resmi Di Gelar

Gren Opening Program MBG Di SPPG Yayasan AL-Miftah Desa Umnul Ckeusik Resmi Di Gelar

Minggu, Mei 17, 2026
Danrem 064/MY Hadir di Desa Ranjeng Saat Presiden Resmikan Operasionalisasi 1.061 KDKMP

Danrem 064/MY Hadir di Desa Ranjeng Saat Presiden Resmikan Operasionalisasi 1.061 KDKMP

Senin, Mei 18, 2026
BONGKAR DUGAAN PENYALAHGUNAAN BOP: PKBM PRATIWI PAMARAYAN TERIMA ANGGARAN RP473 JUTA, DATA DAN FAKTA LAPANGAN BERTOLAK BELAKANG | GERAKAN SERANG RAYA MINTA PENEGAK HUKUM LAKUKAN AUDIT DAN PEMERIKSAAN MENYELURUH

BONGKAR DUGAAN PENYALAHGUNAAN BOP: PKBM PRATIWI PAMARAYAN TERIMA ANGGARAN RP473 JUTA, DATA DAN FAKTA LAPANGAN BERTOLAK BELAKANG | GERAKAN SERANG RAYA MINTA PENEGAK HUKUM LAKUKAN AUDIT DAN PEMERIKSAAN MENYELURUH

Jumat, Mei 22, 2026

Berita Terpopuler

Menolak Koruptor di Bursa Ketua KONI Kota Blitar, MAKI : Olahraga jangan dipimpin Figur Bermasalah.

Menolak Koruptor di Bursa Ketua KONI Kota Blitar, MAKI : Olahraga jangan dipimpin Figur Bermasalah.

Selasa, Mei 19, 2026
 *Presiden Tegaskan Penguatan Yudikatif dan Langkah Tegas Negara dalam Menjaga Kekayaan Bangsa*

*Presiden Tegaskan Penguatan Yudikatif dan Langkah Tegas Negara dalam Menjaga Kekayaan Bangsa*

Senin, Mei 18, 2026
Cemerlang! Isma Wardani Setiawanti Sabet Dua Piala Sekaligus, Harumkan Nama SMP Negeri 1 Way Jepara

Cemerlang! Isma Wardani Setiawanti Sabet Dua Piala Sekaligus, Harumkan Nama SMP Negeri 1 Way Jepara

Minggu, Mei 17, 2026
Sinergi TNI dan Komponen Masyarakat Bersihkan Kawasan Koperasi Nelayan Merah Putih

Sinergi TNI dan Komponen Masyarakat Bersihkan Kawasan Koperasi Nelayan Merah Putih

Senin, Mei 18, 2026
Diduga Terjadi Pungli di MTs Negeri 1 Lebak, Berkedok Kegiatan Tapis Quran: Pungutan Rp400.000 Per Siswa dari Ratusan Peserta, Kepala Sekolah Tak Merespons

Diduga Terjadi Pungli di MTs Negeri 1 Lebak, Berkedok Kegiatan Tapis Quran: Pungutan Rp400.000 Per Siswa dari Ratusan Peserta, Kepala Sekolah Tak Merespons

Senin, Mei 18, 2026
*Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono*  *Oleh: Yakub F. Ismail*  Awal tahun 2026 menjadi fase yang tidak mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Bukan karena minimnya perencanaan atau lemahnya kapasitas sang nakhoda, melainkan tantangan kompleksitas persoalan yang makin berlapis.  Tidak seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Jakarta merupakan ruang hidup yang selalu menjadi fokus perhatian sekaligus parameter bagi keberhasilan kebijakan nasional. Ini karena kota penuh sejarah ini kerap diidentikkan sebagai wajah Indonesia.  Ekspektasi yang begitu besar terhadap Jakarta membuat siapapun yang memimpin daerah ini tidak pernah bisa menghidar dari sorotan publik.   Di balik plus dan minusnya, seorang Gubernur DKI Jakarta selalu berada dalam posisi yang serba tidak nyaman. Adakalanya ia dipuji ketika berhasil membuat gebrakan besar menjawab persoalan yang ada.  Namun, tidak jarang, ia mendapatkan cacian dan hinaan hanya karena kesalahan kecil yang dibuatnya.   Memang menjadi kepala daerah Jakarta bukan pekerjaan sederhana. Jabatan tersebut bahkan penuh risiko. Hanya mereka yang berani dan siap, mampu melewati ujian tersebut.  Hal itulah yang saat ini dirasakan Gubernur Pramono Anung ketika diamanahkan memimpin daerah dengan jumlah penghuni tetap sekitar 11 juta sekian penduduk tersebut.  Mengawali tahun 2026, yang juga menjadi momentum menuju satu tahun masa menjabat pasca dilantik pada 20 Februari 2025, Pramono Anung sudah dihadapkan dengan ujian yang cukup berat.  Salah satu persoalan yang dihadapi saat ini yakni cuaca ekstrem. Harus diakui bahwa cuaca ekstrem kian sulit diprediksi secara tepat, meski inovasi teknologi pendeteksi cuaca terus diperbarui setiap saat.  Terlebih, Kota Jakarta yang selama ini selalu familiar dengan persoalan klasiknya mulai dari genangan, banjir, rob (kenaikan permukaan air laut), penurunan tanah, hingga ketergantungan pada wilayah hulu, yang tidak jarang membuat seorang gubernur kewalahan mencari jalan keluarnya.  Di tengah situasi tersebut, perhatian dan harapan tinggi diletakkan di pundak sang pemimpin daerah.   Dengan demikian, mampukah Pramono Anung membaca situasi, bersikap antisipatif, dan punya resep solutif dalam mengatasi tantangan tersebut? Di sinilah letak ujian yang bakal menentukan seberapa tangguh dan dapat diandalkan dari seorang Pramono untuk memimpin ibu kota.  *Menuju 1 Tahun Kepemimpinan*  Menyongsong satu tahun pengabdian, Pramono Anung masih tampil dengan gaya yang khasnya yang penuh ketenangan dan antisipatif.   Tidak banyak yang berbeda dari karakter kepemimpinan seorang Pramono sejak awal menjabat, hingga dihantam berbagai ujian selama menakhodai ibu kota.  Apa yang konsisten dari seorang Pramono sejauh ini adalah komitmennya dalam menjaga kesinambungan kebijakan yang telah direncanakan matang sebelumnya.  Pramono, seperti telah jamak diketahui, tidak ingin terburu-buru mengubah sikap dan mindset dalam menghadapi persoalan yang datang secara tiba-tiba ataupun yang sifatnya kronis.  Ia selalu menunjukkan cara kerjanya yang rapi, tenang, terkoordinasi, telaten, dan penuh kehati-hatian kala mengurai suatu problematika yang dihadapi. Setidaknya, itulah yang dibuktikan di tahun pertama kepemimpinannya ini.  Karakter kepemimpinan Pramono juga tercermin dari sejumlah kebijakan yang lahir dari tangan dinginnya.   Sebagai contoh, di masa kepemimpinannya, Pramono mendorong penguatan integrasi antarmoda sebagai fondasi mobilitas perkotaan.   Moda transportasi publik seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan transportasi pengumpan diarahkan untuk bekerja dalam satu sistem yang saling terkoneksi dan terintegrasi.   Tidak berhenti di sana, sejumlah proyek besar yang sempat mangkrak dan merusak estetika kota seperti proyek monorel yang sempat terhenti selama 22 tahun kini mulai dibereskan.  Sebelum Pramono, tiang-tiang monorel mangkrak yang terpancang di sepanjang jalan raya HR Rasuna Said itu dibiarkan berdiri membisu tanpa sentuhan apapun.  Bukan karena ia berdiri kokoh sebagai simbol peradaban kota, melainkan hamparan besi tua tengah kota yang mengganggu itu sengaja dibiarkan begitu, karena tidak ada yang tertarik untuk menatanya kembali.  Baru di era Pramono, proyek gagal itu mendapat perhatian dan mulai ditata ulang. Tujuannya sederhana, sebelum memulai langkah besar, perlu membereskan hambatan kecil yang menghalang di depan mata.  Sementara, dalam konteks penanganan banjir, Pramono juga menunjukkan keseriusannya melalui penguatan strategi kombinasi antara solusi struktural dan nonstruktural.   Kebijakan normalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pengerukan waduk dan sungai, sampai dengan penguatan sistem peringatan dini menjadi agenda krusial yang selalu ditekankan di berbagai kesempatan.  Tidak berhenti di situ, Pramono juga mendorong kerja sama lintas wilayah sebagai prasyarat utama menyelesaikan masalah banjir di Jakarta.  Menurutnya, masalah banjir di Jakarta sangat kompleks, sehingga tidak bisa ditangani melalui pendekatan tunggal dan pasrial. Masalah banjir Jakarta sangat berkaitan erat dengan kawasan hulu dan daerah penyangga. Sinergi dan kolaborasi antarwilayah, karenanya, merupakan kunci utama keberhasilan.  Pada aspek pelayanan publik dan birokrasi, Pramono tiada henti mendorong digitalisasi layanan, penyederhanaan perizinan, hingga penegakan disiplin aparatur.   Sejumlah inovasi administratif lahir dari kerja keras dan dedikasinya yang tak kenal lelah. Ia terus mengarahkan jajarannya untuk memangkas prosedur birokrasi yang berbelit dan meningkatkan transparansi, terutama dari sisi layanan kependudukan dan perizinan usaha.  Seluruh capaian dan arah kebijakan yang diambil tersebut tentu menjadi modal penting dalam mengawali pemerintahannya di tahun 2026 ini.   Dengan keuatan fondasi kebijakan yang telah dipersiapkan satu tahun pertama, Pramono dngan satu keyakinan penuh siap menghadapi tantangan di awal 2026 dengan kesiapsiagaan yang lebih terukur.  *Menyongsong 50 Dekade Jakarta*  Membahas Jakarta tidak bisa melepaskan dari perjalanan panjang sejarah yang penuh liku. Dari masa Batavia, sebagai kota kolonial yang dibangun VOC pada abad ke-17, Jakarta lahir sebagai kepentingan dagang dan kekuasaan.   Struktur dan tata kota dirancang dengan tujuan melayani kolonialisme, meninggalkan warisan ketimpangan dan persoalan tata ruang yang jejaknya masih bisa disaksikan dan dirasakan sampai sekarang.  Lalu, pada masa setelah kemerdekaan, transformasi mulai dilakukan, dimulai dari mengganti nama Batavia menjadi Jakarta sebagai wujud mencitakan identitas baru yang selaras-senafas dengan peradaban bangsa.  Pelan tapi pasti, kota ini mulai tumbuh menjadi pusat pemerintahan negara, ekonomi, hingga menjelma sebagai simpul kebudayaan dan identitas nasional.   Dalam perjalanannya menuju 50 dekade (499 tahun), Jakarta diyakini bakal mengalami transformasi besar (great transformation), sebagai kota administratif menjadi pusat ekonomi global.  Menyogsong era baru tersebut, sejumlah persiapan harus dilakukan dari sekarang, mulai dari pembangunan infrastruktur modern, ekspansi kawasan bisnis, hingga pemanfaatan demografi.  Karena itu, menuju masa 500 tahun yang juga bermakna separuh milenium, adalah sebuah perjalanan yang penuh makna.  Ia tidak sekadar rayaan tahun dengan menekankan pada sisi refleksivitas semata, melainkan pada persiapan energi menjemput transformasi besar yang dipersiapkan secara matang di bawah kepemimpinan seorang gubernur.   Dalam konteks inilah sorotan terhadap kepemimpinan Pramono Anung memperoleh makna strategis.   Pramono kini memimpin Jakarta di masa transisi sejarah yang penuh penentuan. Jakarta yang tengah mempersiapkan diri menuju kota global yang sarat kompetisi, inovasi dan kreativitas.  Pada poin ini, tanggung jawab seorang nakhoda sungguh dipertaruhkan. Jika ia berhasil, akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil melangkahi masa peralihan dengan penuh harapan. Sebaliknya, jika ia gagal, maka akan diingat sebagai makhoda buruk yang membunuh mimpi besar berjuta rakyat.  Semoga, tantangan serius ini mampu dijawab dengan karya dan prestasi meyakinkan di tangan seorang Gubernur Pramono Anung yang kini sedang berada di trayek yang tepat.  *Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR*

*Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono* *Oleh: Yakub F. Ismail* Awal tahun 2026 menjadi fase yang tidak mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Bukan karena minimnya perencanaan atau lemahnya kapasitas sang nakhoda, melainkan tantangan kompleksitas persoalan yang makin berlapis. Tidak seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Jakarta merupakan ruang hidup yang selalu menjadi fokus perhatian sekaligus parameter bagi keberhasilan kebijakan nasional. Ini karena kota penuh sejarah ini kerap diidentikkan sebagai wajah Indonesia. Ekspektasi yang begitu besar terhadap Jakarta membuat siapapun yang memimpin daerah ini tidak pernah bisa menghidar dari sorotan publik. Di balik plus dan minusnya, seorang Gubernur DKI Jakarta selalu berada dalam posisi yang serba tidak nyaman. Adakalanya ia dipuji ketika berhasil membuat gebrakan besar menjawab persoalan yang ada. Namun, tidak jarang, ia mendapatkan cacian dan hinaan hanya karena kesalahan kecil yang dibuatnya. Memang menjadi kepala daerah Jakarta bukan pekerjaan sederhana. Jabatan tersebut bahkan penuh risiko. Hanya mereka yang berani dan siap, mampu melewati ujian tersebut. Hal itulah yang saat ini dirasakan Gubernur Pramono Anung ketika diamanahkan memimpin daerah dengan jumlah penghuni tetap sekitar 11 juta sekian penduduk tersebut. Mengawali tahun 2026, yang juga menjadi momentum menuju satu tahun masa menjabat pasca dilantik pada 20 Februari 2025, Pramono Anung sudah dihadapkan dengan ujian yang cukup berat. Salah satu persoalan yang dihadapi saat ini yakni cuaca ekstrem. Harus diakui bahwa cuaca ekstrem kian sulit diprediksi secara tepat, meski inovasi teknologi pendeteksi cuaca terus diperbarui setiap saat. Terlebih, Kota Jakarta yang selama ini selalu familiar dengan persoalan klasiknya mulai dari genangan, banjir, rob (kenaikan permukaan air laut), penurunan tanah, hingga ketergantungan pada wilayah hulu, yang tidak jarang membuat seorang gubernur kewalahan mencari jalan keluarnya. Di tengah situasi tersebut, perhatian dan harapan tinggi diletakkan di pundak sang pemimpin daerah. Dengan demikian, mampukah Pramono Anung membaca situasi, bersikap antisipatif, dan punya resep solutif dalam mengatasi tantangan tersebut? Di sinilah letak ujian yang bakal menentukan seberapa tangguh dan dapat diandalkan dari seorang Pramono untuk memimpin ibu kota. *Menuju 1 Tahun Kepemimpinan* Menyongsong satu tahun pengabdian, Pramono Anung masih tampil dengan gaya yang khasnya yang penuh ketenangan dan antisipatif. Tidak banyak yang berbeda dari karakter kepemimpinan seorang Pramono sejak awal menjabat, hingga dihantam berbagai ujian selama menakhodai ibu kota. Apa yang konsisten dari seorang Pramono sejauh ini adalah komitmennya dalam menjaga kesinambungan kebijakan yang telah direncanakan matang sebelumnya. Pramono, seperti telah jamak diketahui, tidak ingin terburu-buru mengubah sikap dan mindset dalam menghadapi persoalan yang datang secara tiba-tiba ataupun yang sifatnya kronis. Ia selalu menunjukkan cara kerjanya yang rapi, tenang, terkoordinasi, telaten, dan penuh kehati-hatian kala mengurai suatu problematika yang dihadapi. Setidaknya, itulah yang dibuktikan di tahun pertama kepemimpinannya ini. Karakter kepemimpinan Pramono juga tercermin dari sejumlah kebijakan yang lahir dari tangan dinginnya. Sebagai contoh, di masa kepemimpinannya, Pramono mendorong penguatan integrasi antarmoda sebagai fondasi mobilitas perkotaan. Moda transportasi publik seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan transportasi pengumpan diarahkan untuk bekerja dalam satu sistem yang saling terkoneksi dan terintegrasi. Tidak berhenti di sana, sejumlah proyek besar yang sempat mangkrak dan merusak estetika kota seperti proyek monorel yang sempat terhenti selama 22 tahun kini mulai dibereskan. Sebelum Pramono, tiang-tiang monorel mangkrak yang terpancang di sepanjang jalan raya HR Rasuna Said itu dibiarkan berdiri membisu tanpa sentuhan apapun. Bukan karena ia berdiri kokoh sebagai simbol peradaban kota, melainkan hamparan besi tua tengah kota yang mengganggu itu sengaja dibiarkan begitu, karena tidak ada yang tertarik untuk menatanya kembali. Baru di era Pramono, proyek gagal itu mendapat perhatian dan mulai ditata ulang. Tujuannya sederhana, sebelum memulai langkah besar, perlu membereskan hambatan kecil yang menghalang di depan mata. Sementara, dalam konteks penanganan banjir, Pramono juga menunjukkan keseriusannya melalui penguatan strategi kombinasi antara solusi struktural dan nonstruktural. Kebijakan normalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pengerukan waduk dan sungai, sampai dengan penguatan sistem peringatan dini menjadi agenda krusial yang selalu ditekankan di berbagai kesempatan. Tidak berhenti di situ, Pramono juga mendorong kerja sama lintas wilayah sebagai prasyarat utama menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Menurutnya, masalah banjir di Jakarta sangat kompleks, sehingga tidak bisa ditangani melalui pendekatan tunggal dan pasrial. Masalah banjir Jakarta sangat berkaitan erat dengan kawasan hulu dan daerah penyangga. Sinergi dan kolaborasi antarwilayah, karenanya, merupakan kunci utama keberhasilan. Pada aspek pelayanan publik dan birokrasi, Pramono tiada henti mendorong digitalisasi layanan, penyederhanaan perizinan, hingga penegakan disiplin aparatur. Sejumlah inovasi administratif lahir dari kerja keras dan dedikasinya yang tak kenal lelah. Ia terus mengarahkan jajarannya untuk memangkas prosedur birokrasi yang berbelit dan meningkatkan transparansi, terutama dari sisi layanan kependudukan dan perizinan usaha. Seluruh capaian dan arah kebijakan yang diambil tersebut tentu menjadi modal penting dalam mengawali pemerintahannya di tahun 2026 ini. Dengan keuatan fondasi kebijakan yang telah dipersiapkan satu tahun pertama, Pramono dngan satu keyakinan penuh siap menghadapi tantangan di awal 2026 dengan kesiapsiagaan yang lebih terukur. *Menyongsong 50 Dekade Jakarta* Membahas Jakarta tidak bisa melepaskan dari perjalanan panjang sejarah yang penuh liku. Dari masa Batavia, sebagai kota kolonial yang dibangun VOC pada abad ke-17, Jakarta lahir sebagai kepentingan dagang dan kekuasaan. Struktur dan tata kota dirancang dengan tujuan melayani kolonialisme, meninggalkan warisan ketimpangan dan persoalan tata ruang yang jejaknya masih bisa disaksikan dan dirasakan sampai sekarang. Lalu, pada masa setelah kemerdekaan, transformasi mulai dilakukan, dimulai dari mengganti nama Batavia menjadi Jakarta sebagai wujud mencitakan identitas baru yang selaras-senafas dengan peradaban bangsa. Pelan tapi pasti, kota ini mulai tumbuh menjadi pusat pemerintahan negara, ekonomi, hingga menjelma sebagai simpul kebudayaan dan identitas nasional. Dalam perjalanannya menuju 50 dekade (499 tahun), Jakarta diyakini bakal mengalami transformasi besar (great transformation), sebagai kota administratif menjadi pusat ekonomi global. Menyogsong era baru tersebut, sejumlah persiapan harus dilakukan dari sekarang, mulai dari pembangunan infrastruktur modern, ekspansi kawasan bisnis, hingga pemanfaatan demografi. Karena itu, menuju masa 500 tahun yang juga bermakna separuh milenium, adalah sebuah perjalanan yang penuh makna. Ia tidak sekadar rayaan tahun dengan menekankan pada sisi refleksivitas semata, melainkan pada persiapan energi menjemput transformasi besar yang dipersiapkan secara matang di bawah kepemimpinan seorang gubernur. Dalam konteks inilah sorotan terhadap kepemimpinan Pramono Anung memperoleh makna strategis. Pramono kini memimpin Jakarta di masa transisi sejarah yang penuh penentuan. Jakarta yang tengah mempersiapkan diri menuju kota global yang sarat kompetisi, inovasi dan kreativitas. Pada poin ini, tanggung jawab seorang nakhoda sungguh dipertaruhkan. Jika ia berhasil, akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil melangkahi masa peralihan dengan penuh harapan. Sebaliknya, jika ia gagal, maka akan diingat sebagai makhoda buruk yang membunuh mimpi besar berjuta rakyat. Semoga, tantangan serius ini mampu dijawab dengan karya dan prestasi meyakinkan di tangan seorang Gubernur Pramono Anung yang kini sedang berada di trayek yang tepat. *Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR*

Kamis, Januari 15, 2026
Dugaan Ancam Bawa Parang, Ketua HMTM Unpam Serang Dilaporkan ke Polda Banten

Dugaan Ancam Bawa Parang, Ketua HMTM Unpam Serang Dilaporkan ke Polda Banten

Kamis, Mei 14, 2026
Gren Opening Program MBG Di SPPG Yayasan AL-Miftah Desa Umnul Ckeusik Resmi Di Gelar

Gren Opening Program MBG Di SPPG Yayasan AL-Miftah Desa Umnul Ckeusik Resmi Di Gelar

Minggu, Mei 17, 2026
Danrem 064/MY Hadir di Desa Ranjeng Saat Presiden Resmikan Operasionalisasi 1.061 KDKMP

Danrem 064/MY Hadir di Desa Ranjeng Saat Presiden Resmikan Operasionalisasi 1.061 KDKMP

Senin, Mei 18, 2026
BONGKAR DUGAAN PENYALAHGUNAAN BOP: PKBM PRATIWI PAMARAYAN TERIMA ANGGARAN RP473 JUTA, DATA DAN FAKTA LAPANGAN BERTOLAK BELAKANG | GERAKAN SERANG RAYA MINTA PENEGAK HUKUM LAKUKAN AUDIT DAN PEMERIKSAAN MENYELURUH

BONGKAR DUGAAN PENYALAHGUNAAN BOP: PKBM PRATIWI PAMARAYAN TERIMA ANGGARAN RP473 JUTA, DATA DAN FAKTA LAPANGAN BERTOLAK BELAKANG | GERAKAN SERANG RAYA MINTA PENEGAK HUKUM LAKUKAN AUDIT DAN PEMERIKSAAN MENYELURUH

Jumat, Mei 22, 2026
PojokJurnal.Com

PT. Via Multimedia

Perusahaan yang bergerak di bidang digitalisasi, News, Jurnalistik, Penyiaran, Event Organizer, branding, dengan komitmen menghadirkan solusi kreatif dan inovatif untuk mendukung transformasi digital di berbagai sektor. Membangun identitas digital yang kuat, modern, dan relevan dengan perkembangan teknologi masa kini. "(LEGAL PT. VIA MULTIMEDIA: NOMOR AHU-0049900.AH.01.01.TAHUN 2025 Akta Nomor 01 Tanggal 19 Juni 2025 yang dibuat oleh ROBIA AL ADAWIYAH S.H., M.KN. PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS RISIKO NOMOR INDUK BERUSAHA: 2409250096209)".

Follow Us

Copyright © 2023 | PojokJurnal.Com/PT.ViaMultimedia
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan Ketentuan