-->
Telusuri
24 C
id
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Pedoman Media Siber
PojokJurnal.Com
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Kabar Polisi
  • Kabar TNI
  • Hukrim
  • Peristiwa
  • Pedidikan
  • Opini
  • Sosok
  • Teknologi
  • Industri
  • Info dan Tips
  • Wisata
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Politik
  • Ekonomi
Telusuri

PT. Via Multi Media

PT. Via Multi Media
www.pojokjurnal.com
Beranda Daerah Headline Oku Selatan Sekda Pimpin Rapat Persiapan Peringatan HUT Ke 21 Kabupaten Oku Selatan
Daerah Headline Oku Selatan

Sekda Pimpin Rapat Persiapan Peringatan HUT Ke 21 Kabupaten Oku Selatan

Admin
Admin
11 Des, 2024 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

 


OKU Selatan, PojokJurnal.Com - Bertempat di Ruang Nagara Bhakti Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) Sekretaris Daerah H.M. Rahmatullah, S.STP., MM. pimpin langsung rapat persiapan rangkaian kegiatan dalam rangka Peringatan Hari jadi Kabupaten OKU Selatan ke-21 Tahun 2025,Rapat ini dilaksanakan pada Selasa (10/12/2024).

Kepala Bagian Tata Pemerintahan dan Kerjasama Setda Kabupaten OKU Selatan, Devianto Saputro, S.IP., mengawali rapat ini menjelaskan bahwa peringatan HUT Kabupaten OKU Selatan akan dilaksanakan pada tanggal 7 Januari 2025 nanti dengan tema “Bersatu, Maju, Sejahtera”.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa, untuk memperingati HUT ke-21 ini Pemkab OKU Selatan akan melaksanakan beberapa kegiatan yang diawali dengan Upacara pada 7 Januari 2024, kegiatan pasar malam, pameran dan pasar malam, lomba dangdut, bhakti sosial, rapat paripurna hingga Tabligh akbar dan rencana kegiatan lainnya.

Pada rapat awal ini, ditambahkannya bahwa rapat teknis termasuk kepanitiaan dan melihat kesiapan rencana kegiatan. “Pada rapat awal ini juga pihaknya meminta saran dan masukan rencana kegiatan ini sehingga berbagai kegiatan ini terlaksana dengan baik,” ungkapnya.

Sekretaris Daerah dalam rapat ini menjelaskan, rencana waktu pelaksanaan rangkaian kegiatan ini syarat akan peristiwa bersejarah seperti upacara yang akan dilaksanakan pada tanggal 7 Januari yang bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten OKU Selatan, Rapat Paripurna Istimewa 16 Januari yang bertepatan dengan pelantikan bupati pertama hingga pelaksanaan tablih akbar yang bertepatan dengan peringatan Isra Miraj.

Meski demikian, lanjut Sekda beberapa dari rencana rangkaian kegiatan ini khususnya mengenai waktu dan tempat masih tentatif.

Dikatakan Sekda bahwa pada dasarnya kegiatan-kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang sudah cukup sering dilaksanakan. Namun Sekda mengimbau agar OPD yang menjadi panitia khususnya tetap fokus untuk mempersiapkan kegiatan ini sehingga makin meriah dan sukses.

Sekda juga mengharapkan agar kegiatan yang sebelumnya dilaksanakan dapat dievaluasi sehingga perhelatan yang akan dilaksanakan makin baik dan sempurna.

“Pada dasarnya beberapa dari kegiatan ini telah rutin kita laksanakan. Meski bukan hal baru, tapi ini kita harus tetap fokus. Untuk itu, pada rapat awal ini kita melihat bagaimana kesiapan rencana kegiatan ini sebelum nanti akan dilakukan rapat lanjutan,” jelasnya seraya mengharapkan agar seluruh OPD dapat mendukung kesuksesan pelaksanaan rangkaian kegiatan untuk memeriahkan HUT Kabupaten OKU Selatan ini.

Hadir pada rapat ini Asisten Bidang Administrasi Umum, Kadin Sat Pol PP, Kadinkes, Kepala Dinas PUPR, Direktur RSUD Muaradua, Kadin KUKMPP, Kadin Perkimtan, perwakilan Sekwan, perwakilan Dinas PPPA PPKB, perwakilan Dispora, perwakilan Kadisdik, perwakilan Kadishub, Kadin Parbud, perwakilan Kabag UP, perwakilan Kabag Prokopim, Pimpinan Cabang Bank Sumsel Babel Muaradua.

(IM)

Via Daerah
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

UCAPAN DARI YUKIE PAS BAND

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Advertiser

Advertiser
CAVIAR HERBAL

Stay Conneted

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Featured Post

BONGKAR DUGAAN PENYALAHGUNAAN BOP: PKBM PRATIWI PAMARAYAN TERIMA ANGGARAN RP473 JUTA, DATA DAN FAKTA LAPANGAN BERTOLAK BELAKANG | GERAKAN SERANG RAYA MINTA PENEGAK HUKUM LAKUKAN AUDIT DAN PEMERIKSAAN MENYELURUH

Bahrudin Thea- Jumat, Mei 22, 2026 0
BONGKAR DUGAAN PENYALAHGUNAAN BOP: PKBM PRATIWI PAMARAYAN TERIMA ANGGARAN RP473 JUTA, DATA DAN FAKTA LAPANGAN BERTOLAK BELAKANG | GERAKAN SERANG RAYA MINTA PENEGAK HUKUM LAKUKAN AUDIT DAN PEMERIKSAAN MENYELURUH
SERANG – PojokJurnal.com | [Jumat, 22 Mei 2026. Program pemerintah melalui Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKB…

Berita Terpopuler

Menolak Koruptor di Bursa Ketua KONI Kota Blitar, MAKI : Olahraga jangan dipimpin Figur Bermasalah.

Menolak Koruptor di Bursa Ketua KONI Kota Blitar, MAKI : Olahraga jangan dipimpin Figur Bermasalah.

Selasa, Mei 19, 2026
 *Presiden Tegaskan Penguatan Yudikatif dan Langkah Tegas Negara dalam Menjaga Kekayaan Bangsa*

*Presiden Tegaskan Penguatan Yudikatif dan Langkah Tegas Negara dalam Menjaga Kekayaan Bangsa*

Senin, Mei 18, 2026
Cemerlang! Isma Wardani Setiawanti Sabet Dua Piala Sekaligus, Harumkan Nama SMP Negeri 1 Way Jepara

Cemerlang! Isma Wardani Setiawanti Sabet Dua Piala Sekaligus, Harumkan Nama SMP Negeri 1 Way Jepara

Minggu, Mei 17, 2026
Sinergi TNI dan Komponen Masyarakat Bersihkan Kawasan Koperasi Nelayan Merah Putih

Sinergi TNI dan Komponen Masyarakat Bersihkan Kawasan Koperasi Nelayan Merah Putih

Senin, Mei 18, 2026
Diduga Terjadi Pungli di MTs Negeri 1 Lebak, Berkedok Kegiatan Tapis Quran: Pungutan Rp400.000 Per Siswa dari Ratusan Peserta, Kepala Sekolah Tak Merespons

Diduga Terjadi Pungli di MTs Negeri 1 Lebak, Berkedok Kegiatan Tapis Quran: Pungutan Rp400.000 Per Siswa dari Ratusan Peserta, Kepala Sekolah Tak Merespons

Senin, Mei 18, 2026
*Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono*  *Oleh: Yakub F. Ismail*  Awal tahun 2026 menjadi fase yang tidak mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Bukan karena minimnya perencanaan atau lemahnya kapasitas sang nakhoda, melainkan tantangan kompleksitas persoalan yang makin berlapis.  Tidak seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Jakarta merupakan ruang hidup yang selalu menjadi fokus perhatian sekaligus parameter bagi keberhasilan kebijakan nasional. Ini karena kota penuh sejarah ini kerap diidentikkan sebagai wajah Indonesia.  Ekspektasi yang begitu besar terhadap Jakarta membuat siapapun yang memimpin daerah ini tidak pernah bisa menghidar dari sorotan publik.   Di balik plus dan minusnya, seorang Gubernur DKI Jakarta selalu berada dalam posisi yang serba tidak nyaman. Adakalanya ia dipuji ketika berhasil membuat gebrakan besar menjawab persoalan yang ada.  Namun, tidak jarang, ia mendapatkan cacian dan hinaan hanya karena kesalahan kecil yang dibuatnya.   Memang menjadi kepala daerah Jakarta bukan pekerjaan sederhana. Jabatan tersebut bahkan penuh risiko. Hanya mereka yang berani dan siap, mampu melewati ujian tersebut.  Hal itulah yang saat ini dirasakan Gubernur Pramono Anung ketika diamanahkan memimpin daerah dengan jumlah penghuni tetap sekitar 11 juta sekian penduduk tersebut.  Mengawali tahun 2026, yang juga menjadi momentum menuju satu tahun masa menjabat pasca dilantik pada 20 Februari 2025, Pramono Anung sudah dihadapkan dengan ujian yang cukup berat.  Salah satu persoalan yang dihadapi saat ini yakni cuaca ekstrem. Harus diakui bahwa cuaca ekstrem kian sulit diprediksi secara tepat, meski inovasi teknologi pendeteksi cuaca terus diperbarui setiap saat.  Terlebih, Kota Jakarta yang selama ini selalu familiar dengan persoalan klasiknya mulai dari genangan, banjir, rob (kenaikan permukaan air laut), penurunan tanah, hingga ketergantungan pada wilayah hulu, yang tidak jarang membuat seorang gubernur kewalahan mencari jalan keluarnya.  Di tengah situasi tersebut, perhatian dan harapan tinggi diletakkan di pundak sang pemimpin daerah.   Dengan demikian, mampukah Pramono Anung membaca situasi, bersikap antisipatif, dan punya resep solutif dalam mengatasi tantangan tersebut? Di sinilah letak ujian yang bakal menentukan seberapa tangguh dan dapat diandalkan dari seorang Pramono untuk memimpin ibu kota.  *Menuju 1 Tahun Kepemimpinan*  Menyongsong satu tahun pengabdian, Pramono Anung masih tampil dengan gaya yang khasnya yang penuh ketenangan dan antisipatif.   Tidak banyak yang berbeda dari karakter kepemimpinan seorang Pramono sejak awal menjabat, hingga dihantam berbagai ujian selama menakhodai ibu kota.  Apa yang konsisten dari seorang Pramono sejauh ini adalah komitmennya dalam menjaga kesinambungan kebijakan yang telah direncanakan matang sebelumnya.  Pramono, seperti telah jamak diketahui, tidak ingin terburu-buru mengubah sikap dan mindset dalam menghadapi persoalan yang datang secara tiba-tiba ataupun yang sifatnya kronis.  Ia selalu menunjukkan cara kerjanya yang rapi, tenang, terkoordinasi, telaten, dan penuh kehati-hatian kala mengurai suatu problematika yang dihadapi. Setidaknya, itulah yang dibuktikan di tahun pertama kepemimpinannya ini.  Karakter kepemimpinan Pramono juga tercermin dari sejumlah kebijakan yang lahir dari tangan dinginnya.   Sebagai contoh, di masa kepemimpinannya, Pramono mendorong penguatan integrasi antarmoda sebagai fondasi mobilitas perkotaan.   Moda transportasi publik seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan transportasi pengumpan diarahkan untuk bekerja dalam satu sistem yang saling terkoneksi dan terintegrasi.   Tidak berhenti di sana, sejumlah proyek besar yang sempat mangkrak dan merusak estetika kota seperti proyek monorel yang sempat terhenti selama 22 tahun kini mulai dibereskan.  Sebelum Pramono, tiang-tiang monorel mangkrak yang terpancang di sepanjang jalan raya HR Rasuna Said itu dibiarkan berdiri membisu tanpa sentuhan apapun.  Bukan karena ia berdiri kokoh sebagai simbol peradaban kota, melainkan hamparan besi tua tengah kota yang mengganggu itu sengaja dibiarkan begitu, karena tidak ada yang tertarik untuk menatanya kembali.  Baru di era Pramono, proyek gagal itu mendapat perhatian dan mulai ditata ulang. Tujuannya sederhana, sebelum memulai langkah besar, perlu membereskan hambatan kecil yang menghalang di depan mata.  Sementara, dalam konteks penanganan banjir, Pramono juga menunjukkan keseriusannya melalui penguatan strategi kombinasi antara solusi struktural dan nonstruktural.   Kebijakan normalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pengerukan waduk dan sungai, sampai dengan penguatan sistem peringatan dini menjadi agenda krusial yang selalu ditekankan di berbagai kesempatan.  Tidak berhenti di situ, Pramono juga mendorong kerja sama lintas wilayah sebagai prasyarat utama menyelesaikan masalah banjir di Jakarta.  Menurutnya, masalah banjir di Jakarta sangat kompleks, sehingga tidak bisa ditangani melalui pendekatan tunggal dan pasrial. Masalah banjir Jakarta sangat berkaitan erat dengan kawasan hulu dan daerah penyangga. Sinergi dan kolaborasi antarwilayah, karenanya, merupakan kunci utama keberhasilan.  Pada aspek pelayanan publik dan birokrasi, Pramono tiada henti mendorong digitalisasi layanan, penyederhanaan perizinan, hingga penegakan disiplin aparatur.   Sejumlah inovasi administratif lahir dari kerja keras dan dedikasinya yang tak kenal lelah. Ia terus mengarahkan jajarannya untuk memangkas prosedur birokrasi yang berbelit dan meningkatkan transparansi, terutama dari sisi layanan kependudukan dan perizinan usaha.  Seluruh capaian dan arah kebijakan yang diambil tersebut tentu menjadi modal penting dalam mengawali pemerintahannya di tahun 2026 ini.   Dengan keuatan fondasi kebijakan yang telah dipersiapkan satu tahun pertama, Pramono dngan satu keyakinan penuh siap menghadapi tantangan di awal 2026 dengan kesiapsiagaan yang lebih terukur.  *Menyongsong 50 Dekade Jakarta*  Membahas Jakarta tidak bisa melepaskan dari perjalanan panjang sejarah yang penuh liku. Dari masa Batavia, sebagai kota kolonial yang dibangun VOC pada abad ke-17, Jakarta lahir sebagai kepentingan dagang dan kekuasaan.   Struktur dan tata kota dirancang dengan tujuan melayani kolonialisme, meninggalkan warisan ketimpangan dan persoalan tata ruang yang jejaknya masih bisa disaksikan dan dirasakan sampai sekarang.  Lalu, pada masa setelah kemerdekaan, transformasi mulai dilakukan, dimulai dari mengganti nama Batavia menjadi Jakarta sebagai wujud mencitakan identitas baru yang selaras-senafas dengan peradaban bangsa.  Pelan tapi pasti, kota ini mulai tumbuh menjadi pusat pemerintahan negara, ekonomi, hingga menjelma sebagai simpul kebudayaan dan identitas nasional.   Dalam perjalanannya menuju 50 dekade (499 tahun), Jakarta diyakini bakal mengalami transformasi besar (great transformation), sebagai kota administratif menjadi pusat ekonomi global.  Menyogsong era baru tersebut, sejumlah persiapan harus dilakukan dari sekarang, mulai dari pembangunan infrastruktur modern, ekspansi kawasan bisnis, hingga pemanfaatan demografi.  Karena itu, menuju masa 500 tahun yang juga bermakna separuh milenium, adalah sebuah perjalanan yang penuh makna.  Ia tidak sekadar rayaan tahun dengan menekankan pada sisi refleksivitas semata, melainkan pada persiapan energi menjemput transformasi besar yang dipersiapkan secara matang di bawah kepemimpinan seorang gubernur.   Dalam konteks inilah sorotan terhadap kepemimpinan Pramono Anung memperoleh makna strategis.   Pramono kini memimpin Jakarta di masa transisi sejarah yang penuh penentuan. Jakarta yang tengah mempersiapkan diri menuju kota global yang sarat kompetisi, inovasi dan kreativitas.  Pada poin ini, tanggung jawab seorang nakhoda sungguh dipertaruhkan. Jika ia berhasil, akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil melangkahi masa peralihan dengan penuh harapan. Sebaliknya, jika ia gagal, maka akan diingat sebagai makhoda buruk yang membunuh mimpi besar berjuta rakyat.  Semoga, tantangan serius ini mampu dijawab dengan karya dan prestasi meyakinkan di tangan seorang Gubernur Pramono Anung yang kini sedang berada di trayek yang tepat.  *Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR*

*Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono* *Oleh: Yakub F. Ismail* Awal tahun 2026 menjadi fase yang tidak mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Bukan karena minimnya perencanaan atau lemahnya kapasitas sang nakhoda, melainkan tantangan kompleksitas persoalan yang makin berlapis. Tidak seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Jakarta merupakan ruang hidup yang selalu menjadi fokus perhatian sekaligus parameter bagi keberhasilan kebijakan nasional. Ini karena kota penuh sejarah ini kerap diidentikkan sebagai wajah Indonesia. Ekspektasi yang begitu besar terhadap Jakarta membuat siapapun yang memimpin daerah ini tidak pernah bisa menghidar dari sorotan publik. Di balik plus dan minusnya, seorang Gubernur DKI Jakarta selalu berada dalam posisi yang serba tidak nyaman. Adakalanya ia dipuji ketika berhasil membuat gebrakan besar menjawab persoalan yang ada. Namun, tidak jarang, ia mendapatkan cacian dan hinaan hanya karena kesalahan kecil yang dibuatnya. Memang menjadi kepala daerah Jakarta bukan pekerjaan sederhana. Jabatan tersebut bahkan penuh risiko. Hanya mereka yang berani dan siap, mampu melewati ujian tersebut. Hal itulah yang saat ini dirasakan Gubernur Pramono Anung ketika diamanahkan memimpin daerah dengan jumlah penghuni tetap sekitar 11 juta sekian penduduk tersebut. Mengawali tahun 2026, yang juga menjadi momentum menuju satu tahun masa menjabat pasca dilantik pada 20 Februari 2025, Pramono Anung sudah dihadapkan dengan ujian yang cukup berat. Salah satu persoalan yang dihadapi saat ini yakni cuaca ekstrem. Harus diakui bahwa cuaca ekstrem kian sulit diprediksi secara tepat, meski inovasi teknologi pendeteksi cuaca terus diperbarui setiap saat. Terlebih, Kota Jakarta yang selama ini selalu familiar dengan persoalan klasiknya mulai dari genangan, banjir, rob (kenaikan permukaan air laut), penurunan tanah, hingga ketergantungan pada wilayah hulu, yang tidak jarang membuat seorang gubernur kewalahan mencari jalan keluarnya. Di tengah situasi tersebut, perhatian dan harapan tinggi diletakkan di pundak sang pemimpin daerah. Dengan demikian, mampukah Pramono Anung membaca situasi, bersikap antisipatif, dan punya resep solutif dalam mengatasi tantangan tersebut? Di sinilah letak ujian yang bakal menentukan seberapa tangguh dan dapat diandalkan dari seorang Pramono untuk memimpin ibu kota. *Menuju 1 Tahun Kepemimpinan* Menyongsong satu tahun pengabdian, Pramono Anung masih tampil dengan gaya yang khasnya yang penuh ketenangan dan antisipatif. Tidak banyak yang berbeda dari karakter kepemimpinan seorang Pramono sejak awal menjabat, hingga dihantam berbagai ujian selama menakhodai ibu kota. Apa yang konsisten dari seorang Pramono sejauh ini adalah komitmennya dalam menjaga kesinambungan kebijakan yang telah direncanakan matang sebelumnya. Pramono, seperti telah jamak diketahui, tidak ingin terburu-buru mengubah sikap dan mindset dalam menghadapi persoalan yang datang secara tiba-tiba ataupun yang sifatnya kronis. Ia selalu menunjukkan cara kerjanya yang rapi, tenang, terkoordinasi, telaten, dan penuh kehati-hatian kala mengurai suatu problematika yang dihadapi. Setidaknya, itulah yang dibuktikan di tahun pertama kepemimpinannya ini. Karakter kepemimpinan Pramono juga tercermin dari sejumlah kebijakan yang lahir dari tangan dinginnya. Sebagai contoh, di masa kepemimpinannya, Pramono mendorong penguatan integrasi antarmoda sebagai fondasi mobilitas perkotaan. Moda transportasi publik seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan transportasi pengumpan diarahkan untuk bekerja dalam satu sistem yang saling terkoneksi dan terintegrasi. Tidak berhenti di sana, sejumlah proyek besar yang sempat mangkrak dan merusak estetika kota seperti proyek monorel yang sempat terhenti selama 22 tahun kini mulai dibereskan. Sebelum Pramono, tiang-tiang monorel mangkrak yang terpancang di sepanjang jalan raya HR Rasuna Said itu dibiarkan berdiri membisu tanpa sentuhan apapun. Bukan karena ia berdiri kokoh sebagai simbol peradaban kota, melainkan hamparan besi tua tengah kota yang mengganggu itu sengaja dibiarkan begitu, karena tidak ada yang tertarik untuk menatanya kembali. Baru di era Pramono, proyek gagal itu mendapat perhatian dan mulai ditata ulang. Tujuannya sederhana, sebelum memulai langkah besar, perlu membereskan hambatan kecil yang menghalang di depan mata. Sementara, dalam konteks penanganan banjir, Pramono juga menunjukkan keseriusannya melalui penguatan strategi kombinasi antara solusi struktural dan nonstruktural. Kebijakan normalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pengerukan waduk dan sungai, sampai dengan penguatan sistem peringatan dini menjadi agenda krusial yang selalu ditekankan di berbagai kesempatan. Tidak berhenti di situ, Pramono juga mendorong kerja sama lintas wilayah sebagai prasyarat utama menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Menurutnya, masalah banjir di Jakarta sangat kompleks, sehingga tidak bisa ditangani melalui pendekatan tunggal dan pasrial. Masalah banjir Jakarta sangat berkaitan erat dengan kawasan hulu dan daerah penyangga. Sinergi dan kolaborasi antarwilayah, karenanya, merupakan kunci utama keberhasilan. Pada aspek pelayanan publik dan birokrasi, Pramono tiada henti mendorong digitalisasi layanan, penyederhanaan perizinan, hingga penegakan disiplin aparatur. Sejumlah inovasi administratif lahir dari kerja keras dan dedikasinya yang tak kenal lelah. Ia terus mengarahkan jajarannya untuk memangkas prosedur birokrasi yang berbelit dan meningkatkan transparansi, terutama dari sisi layanan kependudukan dan perizinan usaha. Seluruh capaian dan arah kebijakan yang diambil tersebut tentu menjadi modal penting dalam mengawali pemerintahannya di tahun 2026 ini. Dengan keuatan fondasi kebijakan yang telah dipersiapkan satu tahun pertama, Pramono dngan satu keyakinan penuh siap menghadapi tantangan di awal 2026 dengan kesiapsiagaan yang lebih terukur. *Menyongsong 50 Dekade Jakarta* Membahas Jakarta tidak bisa melepaskan dari perjalanan panjang sejarah yang penuh liku. Dari masa Batavia, sebagai kota kolonial yang dibangun VOC pada abad ke-17, Jakarta lahir sebagai kepentingan dagang dan kekuasaan. Struktur dan tata kota dirancang dengan tujuan melayani kolonialisme, meninggalkan warisan ketimpangan dan persoalan tata ruang yang jejaknya masih bisa disaksikan dan dirasakan sampai sekarang. Lalu, pada masa setelah kemerdekaan, transformasi mulai dilakukan, dimulai dari mengganti nama Batavia menjadi Jakarta sebagai wujud mencitakan identitas baru yang selaras-senafas dengan peradaban bangsa. Pelan tapi pasti, kota ini mulai tumbuh menjadi pusat pemerintahan negara, ekonomi, hingga menjelma sebagai simpul kebudayaan dan identitas nasional. Dalam perjalanannya menuju 50 dekade (499 tahun), Jakarta diyakini bakal mengalami transformasi besar (great transformation), sebagai kota administratif menjadi pusat ekonomi global. Menyogsong era baru tersebut, sejumlah persiapan harus dilakukan dari sekarang, mulai dari pembangunan infrastruktur modern, ekspansi kawasan bisnis, hingga pemanfaatan demografi. Karena itu, menuju masa 500 tahun yang juga bermakna separuh milenium, adalah sebuah perjalanan yang penuh makna. Ia tidak sekadar rayaan tahun dengan menekankan pada sisi refleksivitas semata, melainkan pada persiapan energi menjemput transformasi besar yang dipersiapkan secara matang di bawah kepemimpinan seorang gubernur. Dalam konteks inilah sorotan terhadap kepemimpinan Pramono Anung memperoleh makna strategis. Pramono kini memimpin Jakarta di masa transisi sejarah yang penuh penentuan. Jakarta yang tengah mempersiapkan diri menuju kota global yang sarat kompetisi, inovasi dan kreativitas. Pada poin ini, tanggung jawab seorang nakhoda sungguh dipertaruhkan. Jika ia berhasil, akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil melangkahi masa peralihan dengan penuh harapan. Sebaliknya, jika ia gagal, maka akan diingat sebagai makhoda buruk yang membunuh mimpi besar berjuta rakyat. Semoga, tantangan serius ini mampu dijawab dengan karya dan prestasi meyakinkan di tangan seorang Gubernur Pramono Anung yang kini sedang berada di trayek yang tepat. *Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR*

Kamis, Januari 15, 2026
Dugaan Ancam Bawa Parang, Ketua HMTM Unpam Serang Dilaporkan ke Polda Banten

Dugaan Ancam Bawa Parang, Ketua HMTM Unpam Serang Dilaporkan ke Polda Banten

Kamis, Mei 14, 2026
Gren Opening Program MBG Di SPPG Yayasan AL-Miftah Desa Umnul Ckeusik Resmi Di Gelar

Gren Opening Program MBG Di SPPG Yayasan AL-Miftah Desa Umnul Ckeusik Resmi Di Gelar

Minggu, Mei 17, 2026
Danrem 064/MY Hadir di Desa Ranjeng Saat Presiden Resmikan Operasionalisasi 1.061 KDKMP

Danrem 064/MY Hadir di Desa Ranjeng Saat Presiden Resmikan Operasionalisasi 1.061 KDKMP

Senin, Mei 18, 2026
Pangdam III/Siliwangi Tutup Rangkaian Kunker dengan Panen Raya dan Pesan Patriotisme untuk Prajurit di Lebak

Pangdam III/Siliwangi Tutup Rangkaian Kunker dengan Panen Raya dan Pesan Patriotisme untuk Prajurit di Lebak

Kamis, Mei 14, 2026

Berita Terpopuler

Menolak Koruptor di Bursa Ketua KONI Kota Blitar, MAKI : Olahraga jangan dipimpin Figur Bermasalah.

Menolak Koruptor di Bursa Ketua KONI Kota Blitar, MAKI : Olahraga jangan dipimpin Figur Bermasalah.

Selasa, Mei 19, 2026
 *Presiden Tegaskan Penguatan Yudikatif dan Langkah Tegas Negara dalam Menjaga Kekayaan Bangsa*

*Presiden Tegaskan Penguatan Yudikatif dan Langkah Tegas Negara dalam Menjaga Kekayaan Bangsa*

Senin, Mei 18, 2026
Cemerlang! Isma Wardani Setiawanti Sabet Dua Piala Sekaligus, Harumkan Nama SMP Negeri 1 Way Jepara

Cemerlang! Isma Wardani Setiawanti Sabet Dua Piala Sekaligus, Harumkan Nama SMP Negeri 1 Way Jepara

Minggu, Mei 17, 2026
Sinergi TNI dan Komponen Masyarakat Bersihkan Kawasan Koperasi Nelayan Merah Putih

Sinergi TNI dan Komponen Masyarakat Bersihkan Kawasan Koperasi Nelayan Merah Putih

Senin, Mei 18, 2026
Diduga Terjadi Pungli di MTs Negeri 1 Lebak, Berkedok Kegiatan Tapis Quran: Pungutan Rp400.000 Per Siswa dari Ratusan Peserta, Kepala Sekolah Tak Merespons

Diduga Terjadi Pungli di MTs Negeri 1 Lebak, Berkedok Kegiatan Tapis Quran: Pungutan Rp400.000 Per Siswa dari Ratusan Peserta, Kepala Sekolah Tak Merespons

Senin, Mei 18, 2026
*Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono*  *Oleh: Yakub F. Ismail*  Awal tahun 2026 menjadi fase yang tidak mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Bukan karena minimnya perencanaan atau lemahnya kapasitas sang nakhoda, melainkan tantangan kompleksitas persoalan yang makin berlapis.  Tidak seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Jakarta merupakan ruang hidup yang selalu menjadi fokus perhatian sekaligus parameter bagi keberhasilan kebijakan nasional. Ini karena kota penuh sejarah ini kerap diidentikkan sebagai wajah Indonesia.  Ekspektasi yang begitu besar terhadap Jakarta membuat siapapun yang memimpin daerah ini tidak pernah bisa menghidar dari sorotan publik.   Di balik plus dan minusnya, seorang Gubernur DKI Jakarta selalu berada dalam posisi yang serba tidak nyaman. Adakalanya ia dipuji ketika berhasil membuat gebrakan besar menjawab persoalan yang ada.  Namun, tidak jarang, ia mendapatkan cacian dan hinaan hanya karena kesalahan kecil yang dibuatnya.   Memang menjadi kepala daerah Jakarta bukan pekerjaan sederhana. Jabatan tersebut bahkan penuh risiko. Hanya mereka yang berani dan siap, mampu melewati ujian tersebut.  Hal itulah yang saat ini dirasakan Gubernur Pramono Anung ketika diamanahkan memimpin daerah dengan jumlah penghuni tetap sekitar 11 juta sekian penduduk tersebut.  Mengawali tahun 2026, yang juga menjadi momentum menuju satu tahun masa menjabat pasca dilantik pada 20 Februari 2025, Pramono Anung sudah dihadapkan dengan ujian yang cukup berat.  Salah satu persoalan yang dihadapi saat ini yakni cuaca ekstrem. Harus diakui bahwa cuaca ekstrem kian sulit diprediksi secara tepat, meski inovasi teknologi pendeteksi cuaca terus diperbarui setiap saat.  Terlebih, Kota Jakarta yang selama ini selalu familiar dengan persoalan klasiknya mulai dari genangan, banjir, rob (kenaikan permukaan air laut), penurunan tanah, hingga ketergantungan pada wilayah hulu, yang tidak jarang membuat seorang gubernur kewalahan mencari jalan keluarnya.  Di tengah situasi tersebut, perhatian dan harapan tinggi diletakkan di pundak sang pemimpin daerah.   Dengan demikian, mampukah Pramono Anung membaca situasi, bersikap antisipatif, dan punya resep solutif dalam mengatasi tantangan tersebut? Di sinilah letak ujian yang bakal menentukan seberapa tangguh dan dapat diandalkan dari seorang Pramono untuk memimpin ibu kota.  *Menuju 1 Tahun Kepemimpinan*  Menyongsong satu tahun pengabdian, Pramono Anung masih tampil dengan gaya yang khasnya yang penuh ketenangan dan antisipatif.   Tidak banyak yang berbeda dari karakter kepemimpinan seorang Pramono sejak awal menjabat, hingga dihantam berbagai ujian selama menakhodai ibu kota.  Apa yang konsisten dari seorang Pramono sejauh ini adalah komitmennya dalam menjaga kesinambungan kebijakan yang telah direncanakan matang sebelumnya.  Pramono, seperti telah jamak diketahui, tidak ingin terburu-buru mengubah sikap dan mindset dalam menghadapi persoalan yang datang secara tiba-tiba ataupun yang sifatnya kronis.  Ia selalu menunjukkan cara kerjanya yang rapi, tenang, terkoordinasi, telaten, dan penuh kehati-hatian kala mengurai suatu problematika yang dihadapi. Setidaknya, itulah yang dibuktikan di tahun pertama kepemimpinannya ini.  Karakter kepemimpinan Pramono juga tercermin dari sejumlah kebijakan yang lahir dari tangan dinginnya.   Sebagai contoh, di masa kepemimpinannya, Pramono mendorong penguatan integrasi antarmoda sebagai fondasi mobilitas perkotaan.   Moda transportasi publik seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan transportasi pengumpan diarahkan untuk bekerja dalam satu sistem yang saling terkoneksi dan terintegrasi.   Tidak berhenti di sana, sejumlah proyek besar yang sempat mangkrak dan merusak estetika kota seperti proyek monorel yang sempat terhenti selama 22 tahun kini mulai dibereskan.  Sebelum Pramono, tiang-tiang monorel mangkrak yang terpancang di sepanjang jalan raya HR Rasuna Said itu dibiarkan berdiri membisu tanpa sentuhan apapun.  Bukan karena ia berdiri kokoh sebagai simbol peradaban kota, melainkan hamparan besi tua tengah kota yang mengganggu itu sengaja dibiarkan begitu, karena tidak ada yang tertarik untuk menatanya kembali.  Baru di era Pramono, proyek gagal itu mendapat perhatian dan mulai ditata ulang. Tujuannya sederhana, sebelum memulai langkah besar, perlu membereskan hambatan kecil yang menghalang di depan mata.  Sementara, dalam konteks penanganan banjir, Pramono juga menunjukkan keseriusannya melalui penguatan strategi kombinasi antara solusi struktural dan nonstruktural.   Kebijakan normalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pengerukan waduk dan sungai, sampai dengan penguatan sistem peringatan dini menjadi agenda krusial yang selalu ditekankan di berbagai kesempatan.  Tidak berhenti di situ, Pramono juga mendorong kerja sama lintas wilayah sebagai prasyarat utama menyelesaikan masalah banjir di Jakarta.  Menurutnya, masalah banjir di Jakarta sangat kompleks, sehingga tidak bisa ditangani melalui pendekatan tunggal dan pasrial. Masalah banjir Jakarta sangat berkaitan erat dengan kawasan hulu dan daerah penyangga. Sinergi dan kolaborasi antarwilayah, karenanya, merupakan kunci utama keberhasilan.  Pada aspek pelayanan publik dan birokrasi, Pramono tiada henti mendorong digitalisasi layanan, penyederhanaan perizinan, hingga penegakan disiplin aparatur.   Sejumlah inovasi administratif lahir dari kerja keras dan dedikasinya yang tak kenal lelah. Ia terus mengarahkan jajarannya untuk memangkas prosedur birokrasi yang berbelit dan meningkatkan transparansi, terutama dari sisi layanan kependudukan dan perizinan usaha.  Seluruh capaian dan arah kebijakan yang diambil tersebut tentu menjadi modal penting dalam mengawali pemerintahannya di tahun 2026 ini.   Dengan keuatan fondasi kebijakan yang telah dipersiapkan satu tahun pertama, Pramono dngan satu keyakinan penuh siap menghadapi tantangan di awal 2026 dengan kesiapsiagaan yang lebih terukur.  *Menyongsong 50 Dekade Jakarta*  Membahas Jakarta tidak bisa melepaskan dari perjalanan panjang sejarah yang penuh liku. Dari masa Batavia, sebagai kota kolonial yang dibangun VOC pada abad ke-17, Jakarta lahir sebagai kepentingan dagang dan kekuasaan.   Struktur dan tata kota dirancang dengan tujuan melayani kolonialisme, meninggalkan warisan ketimpangan dan persoalan tata ruang yang jejaknya masih bisa disaksikan dan dirasakan sampai sekarang.  Lalu, pada masa setelah kemerdekaan, transformasi mulai dilakukan, dimulai dari mengganti nama Batavia menjadi Jakarta sebagai wujud mencitakan identitas baru yang selaras-senafas dengan peradaban bangsa.  Pelan tapi pasti, kota ini mulai tumbuh menjadi pusat pemerintahan negara, ekonomi, hingga menjelma sebagai simpul kebudayaan dan identitas nasional.   Dalam perjalanannya menuju 50 dekade (499 tahun), Jakarta diyakini bakal mengalami transformasi besar (great transformation), sebagai kota administratif menjadi pusat ekonomi global.  Menyogsong era baru tersebut, sejumlah persiapan harus dilakukan dari sekarang, mulai dari pembangunan infrastruktur modern, ekspansi kawasan bisnis, hingga pemanfaatan demografi.  Karena itu, menuju masa 500 tahun yang juga bermakna separuh milenium, adalah sebuah perjalanan yang penuh makna.  Ia tidak sekadar rayaan tahun dengan menekankan pada sisi refleksivitas semata, melainkan pada persiapan energi menjemput transformasi besar yang dipersiapkan secara matang di bawah kepemimpinan seorang gubernur.   Dalam konteks inilah sorotan terhadap kepemimpinan Pramono Anung memperoleh makna strategis.   Pramono kini memimpin Jakarta di masa transisi sejarah yang penuh penentuan. Jakarta yang tengah mempersiapkan diri menuju kota global yang sarat kompetisi, inovasi dan kreativitas.  Pada poin ini, tanggung jawab seorang nakhoda sungguh dipertaruhkan. Jika ia berhasil, akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil melangkahi masa peralihan dengan penuh harapan. Sebaliknya, jika ia gagal, maka akan diingat sebagai makhoda buruk yang membunuh mimpi besar berjuta rakyat.  Semoga, tantangan serius ini mampu dijawab dengan karya dan prestasi meyakinkan di tangan seorang Gubernur Pramono Anung yang kini sedang berada di trayek yang tepat.  *Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR*

*Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono* *Oleh: Yakub F. Ismail* Awal tahun 2026 menjadi fase yang tidak mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Bukan karena minimnya perencanaan atau lemahnya kapasitas sang nakhoda, melainkan tantangan kompleksitas persoalan yang makin berlapis. Tidak seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Jakarta merupakan ruang hidup yang selalu menjadi fokus perhatian sekaligus parameter bagi keberhasilan kebijakan nasional. Ini karena kota penuh sejarah ini kerap diidentikkan sebagai wajah Indonesia. Ekspektasi yang begitu besar terhadap Jakarta membuat siapapun yang memimpin daerah ini tidak pernah bisa menghidar dari sorotan publik. Di balik plus dan minusnya, seorang Gubernur DKI Jakarta selalu berada dalam posisi yang serba tidak nyaman. Adakalanya ia dipuji ketika berhasil membuat gebrakan besar menjawab persoalan yang ada. Namun, tidak jarang, ia mendapatkan cacian dan hinaan hanya karena kesalahan kecil yang dibuatnya. Memang menjadi kepala daerah Jakarta bukan pekerjaan sederhana. Jabatan tersebut bahkan penuh risiko. Hanya mereka yang berani dan siap, mampu melewati ujian tersebut. Hal itulah yang saat ini dirasakan Gubernur Pramono Anung ketika diamanahkan memimpin daerah dengan jumlah penghuni tetap sekitar 11 juta sekian penduduk tersebut. Mengawali tahun 2026, yang juga menjadi momentum menuju satu tahun masa menjabat pasca dilantik pada 20 Februari 2025, Pramono Anung sudah dihadapkan dengan ujian yang cukup berat. Salah satu persoalan yang dihadapi saat ini yakni cuaca ekstrem. Harus diakui bahwa cuaca ekstrem kian sulit diprediksi secara tepat, meski inovasi teknologi pendeteksi cuaca terus diperbarui setiap saat. Terlebih, Kota Jakarta yang selama ini selalu familiar dengan persoalan klasiknya mulai dari genangan, banjir, rob (kenaikan permukaan air laut), penurunan tanah, hingga ketergantungan pada wilayah hulu, yang tidak jarang membuat seorang gubernur kewalahan mencari jalan keluarnya. Di tengah situasi tersebut, perhatian dan harapan tinggi diletakkan di pundak sang pemimpin daerah. Dengan demikian, mampukah Pramono Anung membaca situasi, bersikap antisipatif, dan punya resep solutif dalam mengatasi tantangan tersebut? Di sinilah letak ujian yang bakal menentukan seberapa tangguh dan dapat diandalkan dari seorang Pramono untuk memimpin ibu kota. *Menuju 1 Tahun Kepemimpinan* Menyongsong satu tahun pengabdian, Pramono Anung masih tampil dengan gaya yang khasnya yang penuh ketenangan dan antisipatif. Tidak banyak yang berbeda dari karakter kepemimpinan seorang Pramono sejak awal menjabat, hingga dihantam berbagai ujian selama menakhodai ibu kota. Apa yang konsisten dari seorang Pramono sejauh ini adalah komitmennya dalam menjaga kesinambungan kebijakan yang telah direncanakan matang sebelumnya. Pramono, seperti telah jamak diketahui, tidak ingin terburu-buru mengubah sikap dan mindset dalam menghadapi persoalan yang datang secara tiba-tiba ataupun yang sifatnya kronis. Ia selalu menunjukkan cara kerjanya yang rapi, tenang, terkoordinasi, telaten, dan penuh kehati-hatian kala mengurai suatu problematika yang dihadapi. Setidaknya, itulah yang dibuktikan di tahun pertama kepemimpinannya ini. Karakter kepemimpinan Pramono juga tercermin dari sejumlah kebijakan yang lahir dari tangan dinginnya. Sebagai contoh, di masa kepemimpinannya, Pramono mendorong penguatan integrasi antarmoda sebagai fondasi mobilitas perkotaan. Moda transportasi publik seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan transportasi pengumpan diarahkan untuk bekerja dalam satu sistem yang saling terkoneksi dan terintegrasi. Tidak berhenti di sana, sejumlah proyek besar yang sempat mangkrak dan merusak estetika kota seperti proyek monorel yang sempat terhenti selama 22 tahun kini mulai dibereskan. Sebelum Pramono, tiang-tiang monorel mangkrak yang terpancang di sepanjang jalan raya HR Rasuna Said itu dibiarkan berdiri membisu tanpa sentuhan apapun. Bukan karena ia berdiri kokoh sebagai simbol peradaban kota, melainkan hamparan besi tua tengah kota yang mengganggu itu sengaja dibiarkan begitu, karena tidak ada yang tertarik untuk menatanya kembali. Baru di era Pramono, proyek gagal itu mendapat perhatian dan mulai ditata ulang. Tujuannya sederhana, sebelum memulai langkah besar, perlu membereskan hambatan kecil yang menghalang di depan mata. Sementara, dalam konteks penanganan banjir, Pramono juga menunjukkan keseriusannya melalui penguatan strategi kombinasi antara solusi struktural dan nonstruktural. Kebijakan normalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pengerukan waduk dan sungai, sampai dengan penguatan sistem peringatan dini menjadi agenda krusial yang selalu ditekankan di berbagai kesempatan. Tidak berhenti di situ, Pramono juga mendorong kerja sama lintas wilayah sebagai prasyarat utama menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Menurutnya, masalah banjir di Jakarta sangat kompleks, sehingga tidak bisa ditangani melalui pendekatan tunggal dan pasrial. Masalah banjir Jakarta sangat berkaitan erat dengan kawasan hulu dan daerah penyangga. Sinergi dan kolaborasi antarwilayah, karenanya, merupakan kunci utama keberhasilan. Pada aspek pelayanan publik dan birokrasi, Pramono tiada henti mendorong digitalisasi layanan, penyederhanaan perizinan, hingga penegakan disiplin aparatur. Sejumlah inovasi administratif lahir dari kerja keras dan dedikasinya yang tak kenal lelah. Ia terus mengarahkan jajarannya untuk memangkas prosedur birokrasi yang berbelit dan meningkatkan transparansi, terutama dari sisi layanan kependudukan dan perizinan usaha. Seluruh capaian dan arah kebijakan yang diambil tersebut tentu menjadi modal penting dalam mengawali pemerintahannya di tahun 2026 ini. Dengan keuatan fondasi kebijakan yang telah dipersiapkan satu tahun pertama, Pramono dngan satu keyakinan penuh siap menghadapi tantangan di awal 2026 dengan kesiapsiagaan yang lebih terukur. *Menyongsong 50 Dekade Jakarta* Membahas Jakarta tidak bisa melepaskan dari perjalanan panjang sejarah yang penuh liku. Dari masa Batavia, sebagai kota kolonial yang dibangun VOC pada abad ke-17, Jakarta lahir sebagai kepentingan dagang dan kekuasaan. Struktur dan tata kota dirancang dengan tujuan melayani kolonialisme, meninggalkan warisan ketimpangan dan persoalan tata ruang yang jejaknya masih bisa disaksikan dan dirasakan sampai sekarang. Lalu, pada masa setelah kemerdekaan, transformasi mulai dilakukan, dimulai dari mengganti nama Batavia menjadi Jakarta sebagai wujud mencitakan identitas baru yang selaras-senafas dengan peradaban bangsa. Pelan tapi pasti, kota ini mulai tumbuh menjadi pusat pemerintahan negara, ekonomi, hingga menjelma sebagai simpul kebudayaan dan identitas nasional. Dalam perjalanannya menuju 50 dekade (499 tahun), Jakarta diyakini bakal mengalami transformasi besar (great transformation), sebagai kota administratif menjadi pusat ekonomi global. Menyogsong era baru tersebut, sejumlah persiapan harus dilakukan dari sekarang, mulai dari pembangunan infrastruktur modern, ekspansi kawasan bisnis, hingga pemanfaatan demografi. Karena itu, menuju masa 500 tahun yang juga bermakna separuh milenium, adalah sebuah perjalanan yang penuh makna. Ia tidak sekadar rayaan tahun dengan menekankan pada sisi refleksivitas semata, melainkan pada persiapan energi menjemput transformasi besar yang dipersiapkan secara matang di bawah kepemimpinan seorang gubernur. Dalam konteks inilah sorotan terhadap kepemimpinan Pramono Anung memperoleh makna strategis. Pramono kini memimpin Jakarta di masa transisi sejarah yang penuh penentuan. Jakarta yang tengah mempersiapkan diri menuju kota global yang sarat kompetisi, inovasi dan kreativitas. Pada poin ini, tanggung jawab seorang nakhoda sungguh dipertaruhkan. Jika ia berhasil, akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil melangkahi masa peralihan dengan penuh harapan. Sebaliknya, jika ia gagal, maka akan diingat sebagai makhoda buruk yang membunuh mimpi besar berjuta rakyat. Semoga, tantangan serius ini mampu dijawab dengan karya dan prestasi meyakinkan di tangan seorang Gubernur Pramono Anung yang kini sedang berada di trayek yang tepat. *Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR*

Kamis, Januari 15, 2026
Dugaan Ancam Bawa Parang, Ketua HMTM Unpam Serang Dilaporkan ke Polda Banten

Dugaan Ancam Bawa Parang, Ketua HMTM Unpam Serang Dilaporkan ke Polda Banten

Kamis, Mei 14, 2026
Gren Opening Program MBG Di SPPG Yayasan AL-Miftah Desa Umnul Ckeusik Resmi Di Gelar

Gren Opening Program MBG Di SPPG Yayasan AL-Miftah Desa Umnul Ckeusik Resmi Di Gelar

Minggu, Mei 17, 2026
Danrem 064/MY Hadir di Desa Ranjeng Saat Presiden Resmikan Operasionalisasi 1.061 KDKMP

Danrem 064/MY Hadir di Desa Ranjeng Saat Presiden Resmikan Operasionalisasi 1.061 KDKMP

Senin, Mei 18, 2026
Pangdam III/Siliwangi Tutup Rangkaian Kunker dengan Panen Raya dan Pesan Patriotisme untuk Prajurit di Lebak

Pangdam III/Siliwangi Tutup Rangkaian Kunker dengan Panen Raya dan Pesan Patriotisme untuk Prajurit di Lebak

Kamis, Mei 14, 2026
PojokJurnal.Com

PT. Via Multimedia

Perusahaan yang bergerak di bidang digitalisasi, News, Jurnalistik, Penyiaran, Event Organizer, branding, dengan komitmen menghadirkan solusi kreatif dan inovatif untuk mendukung transformasi digital di berbagai sektor. Membangun identitas digital yang kuat, modern, dan relevan dengan perkembangan teknologi masa kini. "(LEGAL PT. VIA MULTIMEDIA: NOMOR AHU-0049900.AH.01.01.TAHUN 2025 Akta Nomor 01 Tanggal 19 Juni 2025 yang dibuat oleh ROBIA AL ADAWIYAH S.H., M.KN. PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS RISIKO NOMOR INDUK BERUSAHA: 2409250096209)".

Follow Us

Copyright © 2023 | PojokJurnal.Com/PT.ViaMultimedia
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan Ketentuan